Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan investor Taiwan tersebut saat ini masih mencari lokasi yang tepat dengan mempertimbangkan ketersediaan gas bumi sebagai bahan baku.
"Nilai investasi yang disampaikan cukup besar. Oleh karena itu, kami akan terus mengawal sampai tuntas realisasinya, termasuk masalah lokasi proyek dengan ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan," ujarnya melalui siaran pers BKPM, Kamis (10/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Petrokimia ini termasuk salah satu industri yang strategis. Dari bahan amonia dan megamethanol saja dapat menghasilkan banyak produk turunan, seperti consumer textile, industrial textile, plastik rekayasa, resin, karet dan serat akrilik," katanya.
"Industri ini tergolong industri subsitusi impor yang memiliki nilai strategis dan menjadi prioritas BKPM sejak tahun lalu," tuturnya.
Franky berharap investasi dari Taiwan tersebut terealisasi sehingga dapat mendukung pencapaian target penanaman modal asing yang dipatok sebesar Rp386 triliun atau 65 persen dari total realisasi investasi yang ditargetkan Rp594,8 triliun pada tahun ini.
Kepala Bidang investasi Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei Mohamad Faizal menyatakan kesiapannya untuk mengawal secara intensif dan memfasilitasi realisasi investasi dari investor Taiwan.
Menurut dia, industri petrokimia diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia dan turut merangsang tumbuhnya industri turunan.
Guna menindaklanjuti hal tersebut, saat ini BKPM dan KDEI tengah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memfasilitasi keperluan investor.
"Sesuai arahan Kepala BKPM, Kami sudah mengagendakan pertemuan antara perusahaan dengan SKK Migas untuk membicarakan langkah-langkah terkait realisasi pembangunan proyek. Kami akan membantu untuk mengatasi kendala terkait bahan baku yang dibutuhkan," katanya. (ags/gen)