Dalam rilisnya, BI menjelaskan indikasi perlambataan kredit pada kuartal I 2016 tercermin dari nilai Saldo Bersih (SBT) tertimbang, yang berdasarkan hasil survei perbankan hanya tumbuh sebesar 31,3 persen atau lebih rendah dari kuartal sebelumnya.
Perlambatan pertumbuhan permintaan kredit baru terjadi pada Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Konsumsi (KK), sedangkan permintaan Kredit Investasi (KI) semakin menguat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Optimisme responden baru terlihat pada hasil Survei Perbankan kuartal II 2016. Berdasarkan survei teranyar, BI memperkirakan penyaluran kredit baru pada tahun ini akan tumbuh sebesar 12,3 persen (yoy), lebih tinggi dari proyeksi triwulan sebelumnya 12 persen (yoy).
Sementara itu, untuk dana pihak ketiga (DPK), pertumbuhan kuartalan DPK diperkirakan akan menguat pada kuartal II-2016. Indikasi tersebut tercermin dari nilai saldo bersih tertimbang yang diramalkan tumbuh sebesar 86,1 persen, lebih tinggi dari 27,7 persen pada kuartal sebelumnya.
Menguatnya pertumbuhan DPK diperkirakan terjadi pada semua jenis simpanan (giro, deposito dan tabungan) terutama didorong oleh suku bunga dana yang masih cukup menarik, peningkatan fasilitas dan pelayanan bank dan pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia.
Menanggapi hal tersebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan oleh BI mampu menolong likuiditas perbankan yang ketat.
"Arahnya sebetulnya sejak beberapa kuartal terakhir BI memang cenderung melonggarkan likuiditas, dan itu tepat karena kita memang membutuhkan likuiditas," kata Darmin di kantornya, Rabu (13/4) malam. (ags)