Disuntik Investor Jepang, Bank Index Naik Kelas ke BUKU II

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Senin, 11/04/2016 14:56 WIB
Presiden Direktur Bank Index Charlie Paulus menyebut suntikan modal akan membantu Bank Index dalam mengembangkan bisnis berbasis teknologi digital. Bank Index menggelar konferensi pers terkait suntikan modal dari SBI-FMO sebesar US$10 juta tahun ini, Jakarta, Senin (11/4). (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan restu kepada Bank Index Selindo untuk mendelusi 10 persen saham kepada SBI-FMO Emerging Asia Financial Sector Pte. Ltd dengan nilai US$10 juta. Masuknya SBI-FMO telah disetujui oleh OJK pada 29 Januari 2016 dan berpengaruh kepada status Bank Index.

Presiden Direktur Bank Index Charlie Paulus mengatakan dengan tambahan investasi tersebut kini status Bank Index meningkat menjadi bank dengan kategori BUKU II atau dengan ketentuan modal inti di atas Rp1 triliun. Per 31 Desember 2015, total ekuitas Bank Index telah mencapai Rp1,16 triliun.

"Investasi tersebut membuat permodalan kita memenuhi ketentuan modal bank BUKU II. Oleh karena itu kita mempunyai kesempatan untuk meluncurkan digital banking," ujar Charlie dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (11/4).


SBI-FMO merupakan perusahaan private equity funds yang berkedudukan di Singapura, patungan antara SBI Holdings Hong Kong dan perusahaan keuangan milik pemerintah Belanda FMO. Selain SBI-FMO, pemegang saham Bank Index lainnya adalah PT Kazanah Indexindo, PT Asseta Selindo, Kurniadi Setiawan, Alwi Setiawan dan PT Creador Capital.

Charlie mengatakan masuknya SBI-FMO akan membantu Bank Index dalam mengembangkan bisnis yang berbasis teknologi digital. Perusahaan berencana meluncurkan Digital Banking dan E-Channel dengan jenis Internet dan Mobile Banking, E-Statement, Home Banking, Transaction Notification dan Virtual Account.

"SBI-FMO ini memang sangat baik dalam mengembangkan teknologi berbasis internet, karena di Jepang pun mereka memiliki bank dengan teknologi yang sangat canggih, jadi kita bisa belajar juga dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh mereka," jelas Charlie.

Incar Peningkatan DPK

Per 31 Desember 2015, Bank Index memiliki total aset sebesar Rp7,08 triliun dengan target kenaikan aset sebesar 8,9 persen tahun ini. Sementara posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Index sendiri telah mencapai Rp5,8 triliun dengan komposisi giro Rp903 miliar, simpanan Rp440 miliar dan deposito Rp4,4 triliun.

"Meski diprediksi sulit, kami berharap tahun ini ada peningkatan posisi DPK sebesar 8,7 persen," kata Charlie.

Selain mengembangkan bisnis digital, menurutnya, tahun ini perusahaan akan berfokus pada penyaluran kredit ke sektor komersial ritel untuk kelompok UKM.

"Selama itu komersial dan memiliki prospek, pasti akan kami bantu. Kami ingin menjadi bagian dalam menggerakan perekonomian negara juga," kata Charlie.

Hingga akhir tahun lalu, Bank Index sendiri telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp5,027 triliun. Pembiayaan tersebut disalurkan dalam bentuk kredit komersial maupun konsumsi. (gen)