Laba Bank Permata Tertekan Akibat Cadangan Naik

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Selasa, 26/04/2016 13:11 WIB
Laba Bank Permata Tertekan Akibat Cadangan Naik Nasabah melakukan transaksi di kantor Bank Permata, Jakarta, Selasa (9/9). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Permata Tbk membukukan perolehan laba negatif Rp378,45 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Kerugian tersebut dikarenakan meningkatnya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan atas aset produktif.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, Bank Permata menyisihkan Rp5,17 triliun untuk pencadangan. Jumlah itu tercatat tumbuh 178,50 persen dibandingkan pencadangan kuartal pertama tahun lalu, yakni Rp1,85 triliun.

"Kami mencatat kerugian pada kuartal pertama karena mengalokasikan beban pencadangan dalam jumlah yang signifikan. Beban pencadangan yang tinggi ini merupakan langkah terencana yang diambil untuk meningkatkan kualitas aset bank," ujar Roy Arfandi, Direktur Utama Bank Permata, Selasa (26/4).



Per 31 Maret 2016, kualitas aset perseroan yang tercermin dari rasio kredit macetnya (nonperforming loan/NPL) mencapai 3,48 persen (gross) dan 1,78 persen (nett). Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang NPL periode yang sama tahun lalu, yaitu 1,62 persen (gross) dan 0,64 persen (nett).

Tahun lalu memang bukan tahun keberuntungan bagi industri perbankan, seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional dan global. Tidak terkecuali, Bank Permata yang mengalami tekanan portofolio sejak semester kedua 2015.

"Peningkatan beban pencadangan demi meningkatkan rasio pengamanan, memperbaiki kualitas aset, serta menempatkan bank dalam posisi yang strategis untuk meraih pertumbuhan di masa depan. Dengan catatan, kondisi makro ekonomi semakin membaik," imbuh dia.

Secara rasio, CKPN Bank Permata pada kuartal pertama ini tercatat di level 3,3 persen atau meningkat berlipat-lipat dibandingkan kuartal pertama tahun lalu yang hanya 1,12 persen.

Selain karena risiko kredit yang tinggi, beban operasional selain bunga yang dicatat Bank Permata juga melesat 107,78 persen. Yaitu dari Rp1,51 triliun pada kuartal I tahun lalu menjadi sebesar Rp3,14 triliun pada periode yang sama tahun ini.

Padahal, pendapatan operasional selain bunga yang dikantongi emiten berkode BNLI ini hanya meningkat 44,67 persen menjadi Rp1,08 triliun. Tidak heran apabila rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) perseroan tembus 110,94 persen.

"Kami telah mengidentifikasi area mana saja yang perlu kami perbaiki dan menjalankan sejumlah rencana sesuai hasil analisis kami. Kami optimistis, kebijakan kami untuk meningkatkan kualitas aset, menumbuhkan aset secara selektif, memperkuat permodalan, serta mengendalikan biaya akan menopang kami untuk menunjukkan kinerja yang kuat," pungkasnya. (bir/gen)