Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, Bank Permata menyisihkan Rp5,17 triliun untuk pencadangan. Jumlah itu tercatat tumbuh 178,50 persen dibandingkan pencadangan kuartal pertama tahun lalu, yakni Rp1,85 triliun.
"Kami mencatat kerugian pada kuartal pertama karena mengalokasikan beban pencadangan dalam jumlah yang signifikan. Beban pencadangan yang tinggi ini merupakan langkah terencana yang diambil untuk meningkatkan kualitas aset bank," ujar Roy Arfandi, Direktur Utama Bank Permata, Selasa (26/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Per 31 Maret 2016, kualitas aset perseroan yang tercermin dari rasio kredit macetnya (nonperforming loan/NPL) mencapai 3,48 persen (gross) dan 1,78 persen (nett). Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang NPL periode yang sama tahun lalu, yaitu 1,62 persen (gross) dan 0,64 persen (nett).
Tahun lalu memang bukan tahun keberuntungan bagi industri perbankan, seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional dan global. Tidak terkecuali, Bank Permata yang mengalami tekanan portofolio sejak semester kedua 2015.
Secara rasio, CKPN Bank Permata pada kuartal pertama ini tercatat di level 3,3 persen atau meningkat berlipat-lipat dibandingkan kuartal pertama tahun lalu yang hanya 1,12 persen.
Padahal, pendapatan operasional selain bunga yang dikantongi emiten berkode BNLI ini hanya meningkat 44,67 persen menjadi Rp1,08 triliun. Tidak heran apabila rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) perseroan tembus 110,94 persen.
"Kami telah mengidentifikasi area mana saja yang perlu kami perbaiki dan menjalankan sejumlah rencana sesuai hasil analisis kami. Kami optimistis, kebijakan kami untuk meningkatkan kualitas aset, menumbuhkan aset secara selektif, memperkuat permodalan, serta mengendalikan biaya akan menopang kami untuk menunjukkan kinerja yang kuat," pungkasnya. (bir/gen)