Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan Rosneft tidak hanya menawarkan kerjasama pembangunan kilang, namun juga kerjasama di sektor hulu migas di negara asalnya. Itu dianggapnya menarik karena bisa menunjang suplai minyak mentah perusahaan.
"Dalam pertemuan kemarin mereka tidak hanya menawarkan bekerjasama di kilang, tapi juga membuka kesempatan bagi kami untuk share upstream di Rusia. Itu nantinya akan memperbaiki kemampuan produksi upstream di sini dan akan berpengaruh dalam membangun energy security nasional ke depan," jelas Dwi di Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (29/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi produksi crude Rosneft kan terbesar di dunia. Kemampuan calon rekanan dalam memasok crude oil menjadi salah satu pertimbangan kami," jelasnya.
"Bahkan Rosneft menawarkan engineering yang telah dia pakai di tempat lain. Kalau itu diimplementasikan di Tuban mungkin akan mempercepat pelaksanaan proyek sampai tujuh bulan," jelas Dwi.
Namun secara keseluruhan, mantan Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk memastikan tidak serta merta perusahaan asal Rusia tersebut akan menjadi pemenang tender GRR Tuban.
Masih ada beberapa aspek lain yang perlu dilihat dari peserta tender, diantaranya pengalaman membangun kemitraan secara joint venture, pengalaman mengoperasikan kilang, serta kemampuan keuangan.
"Namun memang bisa dibilang Rosneft punya keunggulan tersebut, dan mungkin kemitraan bisa berkembang di proyek selain GRR Tuban. Kami masih tetap membandingkan poin-poin itu dengan peserta tender lain," ujar Dwi.
"Sampai akhir bulan Mei diharapkan sudah ada penandatangan framework agreement, semacam Memorandum of Understanding (MoU). Tapi sudah terlihat kerjasamanya akan seperti apa, scope of work-nya juga akan terlihat seperti apa," jelas Dwi.
Selain Rosneft, beberapa perusahaan yang berminat untuk bermitra dengan Pertamina untuk menggarap pengembangan kilang Tuban antara lain Saudi Aramco, Kuwait Petroleum International, China Petroleum and Chemical Corporation Ltd (Sinopec), konsorsium PTT Global Chemical Plc dan Thai Oil Ltd, dan Indian Oil. Enam proposal ini datang setelah Pertamina melakukan project expose ke sembilan perusahaan pada Desember lalu.
GRR Tuban sendiri diperkirakan akan memakan biaya US$12 miliar sampai US$14 miliar yang diperkirakan bisa rampung pada 2021 dengan kapasitas 200 MBPD.Selain GRR Tuban, Pertamina juga akan membangun GRR Bontang yang diperkirakan rampung pada 2023. (gen)