Kementerian Keuangan mencatat, sejak 2008 hingga 10 Mei 2016, total sukuk negara yang telah dilelang pemerintah mencapai US$38 miliar atau setara dengan Rp503 triliun. Namun, nilai outstanding-nya saat ini sebesar US$29 miliar atau sekitar Rp380 triliun.
“Nilai outstanding sukuk negara berkontribusi terhadap 15 persen dari total utang pemerintah,” tutur Menkeu pada Sidang Tahunan Islamic Development Bank (IDB) ke-41 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (17/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Terhadap sukuk berdenominasi dolar, Indonesia adalah penerbit terbesar di dunia dari total nilai yang telah diterbitkan dan outstanding-nya saat ini,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.
“Terakhir kali kami menerbitkan sukuk berdenominasi dolar AS, pada Maret lalu, kami menerima sambutan yang sangat baik dari investor. Dari US$2,5 triliun yang diterbitkan, total pesanan mencapai US$8,6 miliar atau sekitar 3,5 kali lipatnya,” ujarnya.
Bambang menambahkan, sejak 2012 pemerintah mulai fokus pada penerbitas sukuk negara untuk membiayai proyek infrastruktur pemerintah, seperti pembangunan jalan kereta api, jalan tol, dan jembatan. Hal ini dinilainya lebih menguntungkan karena menambah variasi sumber pembiayaan APBN.
Lebih lanjut, kata Bambang, penerbitan sukuk untuk membiayai proyek sejalan dengan prioritas pemerintah saat ini yang ingin mempercepat pembangunan.
"Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019 diperkirakan kebutuhan untuk membiayai proyek infrastruktur nasional mencapai US$5 ribu triliun di mana 45 persen diantaranya bisa disokong oleh anggaran pemerintah pusat dan daerah," ujarnya. (ags/gen)