BPS mencatat, impor terbesar berasal dari China sebesar US$12,26 miliar atau mengambil porsi 26,1 persen dari keseluruhan impor. Menyusul China, Jepang dan Thailand mengambil porsi impor terbesar dengan nilai masing-masing 10,76 persen dan Thailand sebesar 8,03 persen.
Kepala BPS, Suryamin mengatakan, perdagangan dengan Thailand patut diwaspadai karena Negeri Gajah Putih itu adalah satu-satunya mitra dagang di Asia Tenggara yang menyebabkan Indonesia defisit. Menurut data yang dimilikinya, neraca perdagangan Indonesia dengan Thailand mengalami defisit sebesar US$336 juta pada bulan Mei.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, kebanyakan importir Indonesia mengimpor otomotif, komponen otomotif, hingga mesin dan peralatan mekanik yang kebanyakan digunakan sebagai barang modal.
"Tapi kalau Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa ke Thailand, maka defisit perdagangan akan semakin melebar. Menurut catatan kami dari Januari hingga Mei 2016, defisit perdagangan dengan Thailand telah mencapai US$1,94 miliar," katanya.
Kendati demikian, ia mengatakan pemerintah tak perlu khawatir kondisi serupa akan terjadi dengan mitra dagang lainnya di Asean. Karena selain dengan Thailand, Indonesia masih mengalami neraca perdagangan yang surplus dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
"Kami masih lihat adanya peluang ekspor ke Vietnam, Myanmar, dan Filipina. Setiap tahunnya mereka menerima impor dari Indonesia dalam jumlah yang besar, sehingga Indonesia masih ada peluang untuk menggarap pasar itu," katanya. (gir/gen)