Pemerintah Diminta Waspada Defisit Dagang dengan Thailand

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 15/06/2016 19:20 WIB
Badan Pusat Statisik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia dengan Thailand mengalami defisit sebesar US$336 juta pada bulan Mei. Badan Pusat Statisik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia dengan Thailand mengalami defisit sebesar US$336 juta pada bulan Mei. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statisik (BPS) mencatat nilai impor pada bulan Mei 2016 sebesar US$11,14 miliar, meningkat 2,98 persen dibandingkan bulan April sebesar US$10,83 miliar. Dalam angka tersebut, Thailand pertama kalinya menjadi tiga besar negara importir terbesar bagi Indonesia.

BPS mencatat, impor terbesar berasal dari China sebesar US$12,26 miliar atau mengambil porsi 26,1 persen dari keseluruhan impor. Menyusul China, Jepang dan Thailand mengambil porsi impor terbesar dengan nilai masing-masing 10,76 persen dan Thailand sebesar 8,03 persen.

Kepala BPS, Suryamin mengatakan, perdagangan dengan Thailand patut diwaspadai karena Negeri Gajah Putih itu adalah satu-satunya mitra dagang di Asia Tenggara yang menyebabkan Indonesia defisit. Menurut data yang dimilikinya, neraca perdagangan Indonesia dengan Thailand mengalami defisit sebesar US$336 juta pada bulan Mei.


"Karena masalah defisit itulah, Indonesia perlu antisipasi masalah perdagangan dengan Thailand. Apakah ini akibat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ya mungkin saja," jelas Suryamin, Rabu (15/6).

Ia menambahkan, kebanyakan importir Indonesia mengimpor otomotif, komponen otomotif, hingga mesin dan peralatan mekanik yang kebanyakan digunakan sebagai barang modal.

Selain itu, ia menjelaskan, masih terlalu dini untuk menilai keberlangsungan tren tersebut di bulan-bulan berikutnya. Namun, ada baiknya pemerintah segera melakukan penetrasi ekspor ke Thailand mengingat pertumbuhan impor dari Thailand meningkat 10,65 persen secara bulanan pada bulan Mei lalu.

"Tapi kalau Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa ke Thailand, maka defisit perdagangan akan semakin melebar. Menurut catatan kami dari Januari hingga Mei 2016, defisit perdagangan dengan Thailand telah mencapai US$1,94 miliar," katanya.

Kendati demikian, ia mengatakan pemerintah tak perlu khawatir kondisi serupa akan terjadi dengan mitra dagang lainnya di Asean. Karena selain dengan Thailand, Indonesia masih mengalami neraca perdagangan yang surplus dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Menurut data yang dimilikinya, surplus perdagangan dengan Malaysia pada bulan Mei tercatat US$362,9 juta, sedangkan neraca perdagangan dengan Singapura tercatat sebesar US$712,8 juta pada periode yang sama. Sementara itu, neraca perdagangan terhadap negara-negara Asia Tenggara secara keseluruhan juga masih surplus sebesar US$694,6 juta.

"Kami masih lihat adanya peluang ekspor ke Vietnam, Myanmar, dan Filipina. Setiap tahunnya mereka menerima impor dari Indonesia dalam jumlah yang besar, sehingga Indonesia masih ada peluang untuk menggarap pasar itu," katanya. (gir/gen)