Kemenhub Menanti Pengajuan Inspeksi Ulang Operasi Terminal 3

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Senin, 20/06/2016 19:22 WIB
Kemenhub Menanti Pengajuan Inspeksi Ulang Operasi Terminal 3 Pemerintah tidak memaksa manajemen Angkasa Pura II untuk membuka pengoperasian Terminal 3 Ultimate menjelang lebaran. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan PT Angkasa Pura II (Persero) belum mengirimkan kembali surat permintaan inspeksi uji kelayakan Terminal 3 Ultimate, Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah Kemenhub membatalkan pembukaan Terminal 3 yang seharusnya dijadwalkan hari ini, Senin (20/6).

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Suprasetyo menjelaskan, hal itu tidak menjadi masalah mengingat tak ada paksaan bagi AP II untuk membuka Terminal 3 Ultimate menjelang lebaran. Kendati demikian, instansinya tetap berharap AP II bisa menyelesaikan beberapa kekurangan dari aspek keselamatan terminal tersebut sesegera mungkin.

"Waktunya terlalu mepet, lebih baik manfaatkan saja Terminal 1, 2, dan 3 untuk mengakomodasi lebaran," jelas Suprasetyo ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (20/6).


Di samping itu, tambahnya, kekuatan inspektur Kemenhub juga tidak mencukupi karena fokus melakukan inspeksi bandara-bandara lain menjelang mudik lebaran. Pasalnya, sejauh ini Kemenhub berencana akan menginspeksi 35 bandara dan telah merampungkan inspeksi terhadap 28 bandara, atau 80 persen dari jumlah yang dimaksud.

Selain itu, ia memperkirakan kebutuhan inspektur yang tidak sedikit demi memeriksa Terminal 3 Ultimate, mengingat banyak aspek yang perlu diperiksa seperti navigasi, listrik, dan keamanan.

“Kami masih lihat lagi masalah tenaga inspekturnya, masalahnya kami ada 35 bandara yang perlu dipantau. Tapi kalau misalkan sebelum lebaran AP II bilang siap, ya kami akan tarik beberapa inspektur ke situ," jelasnya.

Aspek keselamatan lainnya yang menjadi perhatian Kemenhub adalah penyaluran avtur yang menggunakan truk. Suprasetyo menganggap ini sangat berbahaya karena rawan terlindas pesawat mengingat frekuensi lepas landas yang terbilang banyak. Apalagi, pesawat-pesawat yang diparkirkan di sana memiliki ukuran yang besar.

"Selain truk avtur, kemarin juga mobile tower terbilang membahayakan karena view-nya tertutup garbarata. Karena terbilang safety-nya masih kurang, jadi lebih baik optimalkan terminal yang sudah ada terlebih dahulu," terangnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyatakan tidak bisa menerbitkan izin pengoperasian Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta sesuai keinginan manajemen PT Angkasa Pura II (AP). Dari hasil kunjungannya ke terminal senilai Rp7 triliun beberapa hari lalu, Jonan menilai masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki AP II dari aspek keselamatan.

Ia menyebut, hal pertama yang belum beres adalah sisi ruang udara (airside) yang belum steril. Untuk itu, sebelum dioperasikan, Jonan meminta agar airside terminal 3 diperiksa kembali agar tidak ada benda asing yang membahayakan saat pesawat lepas landas atau mendarat.

Kedua, Jonan menyinggung masalah tower air traffic controller (ATC). Menurut mantan bos PT Kereta Api Indonesia (Persero), secara teori petugas tower harus bisa melihat semua pergerakan di airside. (gen)