IPOP awalnya ditandatangani 24 September 2014 oleh empat perusahaan kelapa sawit besar yaitu yaitu Wilmar, Golden Agri Resources (GAR), Cargill, dan Asian Agri. Pada Maret 2015, Musim Mas bergabung, diikuti oleh Astra Argo Lestari yang bergabung pada awal 2016.
Namun, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) kemudian mengendus pola kartel dalam IPOP sampai akhirnya menerbitkan ancaman bakal melakukan investigasi menyeluruh. Di mana jika dugaan kartel yang merugikan perusahaan non-IPOP tersebut terbukti, enam anggota IPOP bisa dikenakan denda sampai Rp750 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus Purnomo, Managing Director for Sustainability & Strategic Stakeholders Engagement Golden Agri Resources menyatakan perusahaannya mendukung upaya Pemerintah untuk membangun industri kelapa sawit yang berkelanjutan.
“Melihat ketegasan langkah yang dilakukan Indonesia menuju kelapa sawit berkelanjutan, maka Cargill menyetujui pembubaran IPOP,” tutur Lee.
Terkait komitmen pemerintah Indonesia untuk memperkuat ISPO, Shinta Kamdani, Wakil Ketua Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyatakan, perusahaan penandatangan IPOP berkomitmen mendukung upaya penguatan dan peningkatan ISPO sebagai standard yang dapat diterima dan diakui di pasar internasional.
“Kami berharap dapat memiliki koordinasi yang lebih baik antara pemerintah dan sektor swasta dalam melakukan transformasi sektor kelapa sawit sehingga dapat menjadi sektor yang berkelanjutan, serta mempertahankan kelapa sawit sebagai komoditas strategis bangsa,” tutup Shinta.