Para analis memperkirakan ekonomi terbesar kedua di dunia itu kehilangan momentum pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini menyusul berkurangnya daya dorong sektor keuangan terhadap industri manufaktur. Hal ini membuat pemerintah dan bank sentral China mengeluarkan serangkaian kebijakan di tengah kekhawatiran baru akan dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).
Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter itu membuat yuan melemah ke posisi terendahnya dalam 5,5 tahun terakhir, yang pada akhirnya justru menimbulkan kekhawatiran baru bagi investor global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi China sebesar 6,9 persen pada 2015 sejauh ini merupakan yang terendah dalam lebih dari dua dekade.
Di sisi lain, investasi swasta melambat ke rekor terendah hingga Mei tahun ini, dengan hanya tumbuh 3,9 persen dari sebelumnya mencapai digit ganda pada tahun lalu. Pertumbuhan investasi swasta di China sejauh ini merupakan yang paling rendah sejak otoritas terkait mulai merilis data penanaman modal pada 2012.
Perlambatan investasi itu selaras dengan stagnasi di sektor manufaktur China. Sementara di sektor keuangan, banyak investor yang semakin menghindari pasar saham negara pasca insiden tahun lalu.
Sesuai jadwal, otoritas China akan melaporkan data Produk Domestik Bruto (PDB) resmi pada 15 Juli 2016, bersamaan dengan rilis indikator bulanan investasi, produksi industri dan penjualan ritel. (ags)