Jumlah Titik Api di Indonesia Berkurang 74,21 Persen

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 12/08/2016 08:28 WIB
Jumlah Titik Api di Indonesia Berkurang 74,21 Persen Pemerintah akan menyiapkan sistem insentif dan disinsentif agar petani tidak membuka lahan dengan membakar, terutama di wilayah rawan kebakaran. (ANTARA FOTO/Sheravim).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyatakan telah menurunkan jumlah titik api (hotspots) di seluruh Indonesia. Penurunan titik api itu dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan yang berulang setiap tahunnya.

Menteri LHK Siti Nurbaya mengungkapkan berdasarkan data satelit NOAA, sejak awal tahun hingga 9 Agustus 2016, jumlah titik api telah turun 74,21 persen menjadi 1.362 hotspots dari 5.282 hotspots pada periode yang sama tahun lalu.

“Di delapan provinsi termasuk Riau, Jambi, Kelimantan Tengah, Kalimantan Barat, itu titik apinya malah turun hingga 79 persen,” tutur Siti saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (11/8).


Khusus untuk provinsi Riau, lanjut Siti titik apinya telah turun 81,78 persen dibandingkan tahun lalu menjadi 216 hotspots. Titik api juga turun di provinsi Kalimantan Tengah dari 544 hotspots menjadi 24 titik api.

“Banyak faktor sebenarnya yang membuat titik api ini turun. Pertama, konsep yang dari Bapak Presiden tahun lalu bahwa setiap ada api harus dimatikan, patroli terpadu harus jalan,” ujarnya.

Selain itu, kebijakan pemerintah terkait pengambilalihan lahan perusahaan yang terbakar oleh negara juga efektif menekan munculnya titik api.

“Areal perusahaan kalau terjadi kebakaran itu diambil ternyata cukup efektif karena sampai sekarang nggak kedengaran ada kebarakan di lahan hutan kecuali tempo hari ada di beberapa hektar dan sudah dilakukan upaya perbaikan dan mematikan api,”ujarnya.

Upaya pemerintah juga didukung oleh kondisi cuaca yang tidak sepanas tahun lalu.

Lebih lanjut, Siti menyatakan upaya penanggulagan kebakaran hutan terus dilakukan. Sejak 27 Februari hingga 9 Agustus pemerintah telah melemparkan bom air (water bomb) di Riau sebanyak 39,4 juta liter menggunakan lima pesawat Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

“Selain itu, juga ada modifikasi cuaca, hujan buatan, juga sudah dilakukan di Riau sejak 15 Juli sebanyak 27 ton garam sudah ditabur,”jelasnya.

Kemudian,pemerintah juga telah melemparkan bom air sejak 12 Mei 2016 di Sumatera Selatan sebanyak 1,7 juta liter air dan melakukan menurunkan hujan buatan menggunakan 57 ton garam.

“Jadi semua upaya dilakukan sekaligus,”ujarnya.

Insentif Petani

Ke depan, pemerintah semakin menekankan upaya pencegahan dibandingkan penanggulangan. Strategi yang ditempuh untuk mencegah kebakaran salah satunya dengan membuat sistem insentif/disinsentif agar petani tidak membuka lahan dengan membakar, terutama di wilayah rawan kebakaran.

Tak hanya itu, sistem peringatan dini juga akan dilembagakan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini.

Kemudian, pemerintah juga menyiapkan prosedur operasional standar di pusat krisis (standard operational procedure crisis center). Prosedur ini akan diterapkan kala api membesar dan tidak bisa dipadamkan oleh masyarakat maupun perusahaan setempat. (gen)