Hendra Thanwijaya, Direktur FWD Life mengatakan, optimisme itu bukan isapan jempol semata. Mengingat penetrasi pasar asuransi di Bali masih rendah, yakni baru 20 persen dari total penduduk yang diperkirakan sebanyak 4,2 juta jiwa.
“Beroperasinya kantor di Bali, membuka pasar lebih luas bagi kami untuk merangkul masyarakat di Timur Indonesia. Bali ini kan dekat dengan Lombok, Kupang, dan wilayah sekitar lainnya yang belum pernah kami garap,” ujarnya, Jumat (19/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami ingin merangkul 500 agen di Bali. Dari jumlah tersebut, premi yang ditargetkan sebesar Rp5 miliar. Tahun depan, kami merekrut hingga 1.000 agen dengan target premi meningkat dua kali lipat dari Rp5 miliar,” imbuh Hendra.
Bebas Aksi dan Bebas Rencana merupakan dua dari sekitar 10 produk FWD Life yang dijual melalui layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech). Fintech ini dikelola langsung oleh perusahaan.
Di samping itu, ada pula produk-produk asuransi jiwa tradisional dan kesehatan yang dilego lewat kanal keagenan, bancassurance (produk asuransi yang dijual melalui kerja sama bank mitra), corporate care atau employee benefit, termasuk unit usaha syariah.
Secara keseluruhan, Paul Setio Kartono, Direktur Keuangan FWD Life menambahkan, pendapatan premi perseroan per Juni 2016 mencapai Rp87 miliar.
“Per Juli sudah tembus Rp110 miliar atau lebi dari dua kali lipatnya perolehan premi di sepanjang tahun lalu,” pungkasnya. (gen)