Iwan menuturkan, dalam satu entitas bisnis keluarga sendiri rawan terjadinya konflik. Ia menyebut sudah banyak konflik antar saudara dalam menjalankan bisnis, yang pada akhirnya memecah entitas bisnis tersebut sehingga jalan sendiri-sendiri.
“Komunikasi menjadi hal yang penting dalam bisnis keluarga, karena rentan akan konflik. Makanya tidak heran kalau komunikasi tidak dijaga, akan timbul pertengkaran,” jelas Iwan, Rabu (24/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain risiko tersebut, Iwan menyebut tantangan lain dalam menjalankan bisnis keluarga hasil rintisan generasi pertama adalah tidak ada lagi figur pemimpin yang dinilai cakap menjalankan perusahaan. Jika sudah demikian, kadang pilihan yang muncul adalah menyewa seorang profesional untuk menjalankan perusahaan tersebut dengan menjadikannya direksi.
“Namun, kami juga tidak menutup masukan dari pihak lain, jadi selain keluarga kami juga harus dengarkan apa yang pihak lain bicarakan ke kami,” ujarnya.
Program Director IBF Yuswohady menegaskan, wacana Indonesia Inc yang digagas IBF tidak akan mengundang konflik yang biasanya terjadi dalam perusahaan keluarga. Hal ini karena jika antar perusahaan keluarga sudah berkolaborasi, nantinya bukan lagi perusahaan keluarga atau kekeluargaan, tetapi profesional.
“Kalau sudah berkolaborasi bukan lagi bisnis keluarga, jadinya hubungan profesional,” ujar Yuswohady.
Bryan Tilaar, Direktur Martha Tilaar Group ikut mendukung konsep Indonesia Inc jika kolaborasi antar perusahaan keluarga dijalankan layaknya suatu kerjasama operasional. Kerjasama tersebut mensyaratkan dijalankannya bisnis secara bersama dan profesional.
“Kalau itu kolaborasi manajemen, jadi misalnya joint operasional-nya. Ya itu akan tercipta hubungan yang profesional, itu akan membantu kinerja perusahaan, bukan konflik,” pungkas Brian. (gen)