Sementara, indeks sektoral lainnya mengalami penurunan. Indeks saham sektor agrikultur turun 1,81 persen, industri dasar minus 1,79 persen, aneka industri terkoreksi 2,61 persen, barang konsumsi melemah 1,31 persen, properti negatif 2,12 persen, infrastruktur minus 2,72 persen, finansial terdepresiasi 1,52 persen, perdagangan turun 0,23 persen, dan manufaktur minus 1,63 persen.
Kepala Riset Bahana Securities Harry Su mengatakan, kenaikan indeks sektoral tambang disebabkan harga nikel dan timah sudah cukup baik. Selain itu permintaan tambang dari China cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian Lucky Bayu, analis Danareksa Sekuritas menjelaskan pelemahan indeks sektoral selain tambang akibat imbas dari kekhawatiran pasar akan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS). Sentimen The Fed tersebut yang membuat pergerakan IHSG cenderung terbatas sehingga secara otomotis mempengaruhi transaksi.
Tak hanya itu, lanjutnya, belum adanya sentimen positif yang menopang laju IHSG juga mempengaruhi melemahnya pergerakan saham pada indeks sektoral lainnya.
“Jadi tambang saja yang masih diapresiasi,” imbuhnya.
Untuk minggu depan, Lucky Bayu memprediksi sektor barang konsumsi akan melaju didukung oleh penurunan suku bunga dan berbagai kebijakan pemerintah seperti seven days repo rate, sehingga daya beli masyarakat akan bertambah.
“Misalnya saja saham-saham Indofood dan Ramayana,” pungkasnya. (ags)