Indonesia Disebut Mengalami Kebocoran Ekspor Timah

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Selasa, 20/09/2016 08:38 WIB
Indonesia Disebut Mengalami Kebocoran Ekspor Timah Negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia disebut masih menerima ekspor dari Indonesia berupa pasir timah (ore) hingga saat ini, meski telah dilarang. (REUTERS/Dwi Sadmoko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) menyatakan, lagi-lagi Indonesia mengalami kasus kebocoran ekspor timah.

Negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia disebut masih menerima ekspor dari Indonesia berupa pasir timah (ore) hingga saat ini. Padahal, AETI menegaskan pemerintah Indonesia telah melarang ekspor komoditas dalam bentuk bahan baku atau belum diolah.

"Sebenarnya ini tidak banyak yang tahu. Kami mendapat laporan dari Singapura dan Malaysia, mereka melaporkan masih menerima ekspor pasir timah, padahal Indonesia dari 2007 sudah ada larangan itu," ucap Ketua AETI Jabin Sufianto di Bali, Senin (19/9).

Ia mengungkapkan, pada 2015 China juga merilis data impor pasir timah dari Indonesia sebesar 19,5 ton. Angka tersebut memang terbilang kecil, tapi ia tak menampik masih ada kebocoran lain yang tidak tercatat.

"Memang kecil, tapi itu yang terdata, apalagi yang enggak terdata," imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, kasus kebocoran ekspor ini tak hanya terjadi antar negara, tetapi juga antar pulau. Ia mencontohkan, terdapat pengiriman ingot untuk keperluan lokal ke Jakarta, tapi nyatanya timah yang dikirim tak sampai seperti yang tertulis dalam tujuannya.

"Misalnya perusahaan A di Jakarta, yang juga mendapat suplai dari timah, tetapi ketika dicek barangnya tidak sampai. Jadi itu ke mana?" ungkapnya.

Menurutnya, saat ini AETI tengah melacak kasus tersebut karena pengiriman timah antar pulau sudah menjadi modus penyelundupan timah. Jabin menyatakan, kemungkinan besar terdapat volume yang tinggi dalam penyelundupan tersebut

Contoh lainnya, perusahaan A mengirim timah ke perusahaan di Jakarta sebanyak 150 ton. Namun, yang diterima hanya 99 ton, sedangkan sisanya tidak diketahui ke mana.

"Misalnya nih ada pengiriman dari Bangka ke Jakarta 150 ton, sementara kami tau nih perusahaaan tersebut baru bisa ekspor 99 ton lalu sisanya yang 51 tonnya ke mana? Atau sebaliknya deh 51 ton di ekspor, lalu yang 99 tonnya ke mana? Terus pas dicek ke perusahaan terkait timahnya enggak ada," paparnya.

Menurutnya, kasus yang terjadi pada tahun ini merupakan kasus kebocoran ekspor terbesar sejak Jabin menjabar sebagai Ketua ATEI pada tahun 2014. Jabin menyatakan, banyak pihak yang melaporkan kasus kebocoran eksport tersebut kepadanya. Sayangnya, ia belum mendapatkan bukti dari kasus pengiriman timah antar daerah tersebut.

"Banyak sekali yang lapor ke saya. Tapi saya belum dapat bukti. Jadi bisa dibilang tema tahun ini adalah kebocoran, kinerjanya jadi enggak maksimal," imbuhnya.

Kinerja yang tidak maksimal tersebut dapat terlihat berdasarkan data yang dimiliki Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), di mana terjadi penurunan jumlah ekspor pada enam bulan pertama tahun ini yaitu 29.652 ribu ton atau turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 39.359 ribu ton.

Dengan demikian, ia menginginkan masalah ini juga menjadi perhatian para pemangku kepentingan di industri timah, agar kebocoran ekspor tersebut bisa diminimalisir.

“Supaya semuanya juga membuka matanya terhadap masalah itu,” tutupnya.


(gir)