Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengungkapkan, diversifikasi pasar tujuan ekspor juga dapat mengurangi ketergantungan industri di Indonesia hanya pada sejumlah negara saja, serta menjadi jalan keluar saat harga komoditas belum membaik.
"Perekonomian global masih lemah, harga komoditas belum membaik, sehingga kita perlu diversifikasi produk ekspor, membuka peluang negara lain," ungkap Sasmito di kantornya, Senin (17/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya soal negara tujuan ekspor baru, lanjut Sasmito, industri Indonesia juga harus menyasar pasar tersebut dengan produk-produk yang tepat dan variatif. Misalnya saja, sarung, produk pecah belah, dan barang-barang rumah tangga.
Sebagai informasi, berdasarkan data BPS, nilai ekspor mengalami penurunan 1,84 persen dari US$12,74 miliar menjadi US$12,51 miliar dengan negara tujuan ekspor dominan berada di benua Asia dan Eropa.
Sementara, dari negara tujuan ekspor, Amerika Serikat sebesar 12,24 persen atau US$11,59 miliar. Nilai ekspor ke China sebesar 10,26 persen dengan nilai mencapai US$9,71 miliar, dan ke Jepang sebesar 10,07 persen mencapai US$9,53 miliar.
Adapun, penyumbang ekspor tertinggi masih berasal dari sektor non minyak dan gas (migas), yakni mencapai US$11,45 miliar. Sedangkan sektor migas, menyumbang ekspor sebesar US1,06 miliar pada ekspor September. (bir)