Hal itu disampaikan oleh Kepala BPS Suhariyanto, usai mengumumkan hasil kinerja ekspor September 2016 di kantornya, Senin (17/10).
"Yang mempengaruhi total ekspor kan banyak faktor, tak hanya nilai tukar, permintaan dan harga komoditas juga mempengaruhi," ujar Suhariyanto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rupiah sempat anjlok ke level terdalam sepanjang sejarah setelah menembus kisaran Rp14 ribu per dolar AS pada akhir September 2015. Sejak saat itu, rupiah kembali menguat secara bertahap dan sempat menembus kisaran Rp12.900 pada akhir September lalu.
Meskipun tidak signifikan, BPS mengaitkan secara tak langsung penguatan kurs terhadap kinerja ekspor yang melemah pada September.
BPS mencatat, nilai ekspor September 2016 melemah 1,84 persen, dari US$12,74 miliar pada Agustus menjadi US$12,51 miliar.
Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-September 2016 turun sekitar 9,4 persen menjadi US$104,36 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$115,2 miliar.
Namun, penurunan ekspor rupanya bersamaan dengan penurunan impor sehingga Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) justru mengalami surplus sekitar US$1,21 miliar pada September ini. Sedangkan pada Agustus lalu, NPI sebesar US$0,29 miliar (ags/ags)