Menteri Perindustrian Tagih Janji Investasi Toyota dan Sojitz

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Selasa, 18/10/2016 06:34 WIB
Menteri Perindustrian Tagih Janji Investasi Toyota dan Sojitz Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat berbincang dengan tim CNNIndonesia.com di kantornya, Kamis (25/8). (CNN Indonesia/Gentur Putro Jati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pekan lalu melawat ke Jepang antara lain untuk menagih janji investasi Toyota Motor Corp dan Sojitz Corporation di Indonesia.

Toyota Motor, kata Airlangga, berencana menambah modalnya di Indonesia sebesar Rp20 triliun hingga tahun 2019. Pabrikan otomotif Jepang itu menjadwalkan akan memulai pengembangan fasilitas produksi dan pemasaran mobil kompak Toyota dan Daihatsu pada Januari 2017.

“Komitmen mereka ini telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo ketika berkunjung ke Jepang, beberapa waktu lalu. Saat ini, investasi yang sudah terealisasi mencapai Rp 10 triliun,” tuturnya melalui keterangan tertulis, Senin sore (17/10).


Dalam kesempatan tersebut, ia mendorong Toyota Motor untuk terus meningkatkan pemberdayaan pemasok lokal pada industri komponen.

Sementara Sojitz Corporation, lanjut Airlangga, perusahaan industri kimia Jepang itu telah menyatakan minatnya untuk membangun pabrik methanol kedua di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Direksi Sojitz menegaskan ekspansi baru akan terealisasi jika pasokan gas alam dapat dijamin dengan harga yang kompetitif, terutama di Teluk Bintuni, Papua Barat.

“Mereka juga akan membuat roadmap (peta jalan) untuk membangun pabrik methanol berkapasitas 1 juta ton serta melakukan kajian untuk mendirikan pabrik methanol menjadi olefin di Bintuni. Jadi, kami akan minta hasil studinya,” lanjut Airlangga.

Tak hanya itu, Sojitz Corporation bersama PT Pertamina (Persero) dan PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan pembangkit listrik berbahan bakar gas di Sumatera Utara dengan kapasitas 1x250 MW. Investasi proyek ini ditaksir mencapai US$250 juta.

“Jadi, kami melihat satu per satu persoalan yang mereka hadapi saat ini sekaligus menanyakan komitmennya tentang rencana investasi di Tanah Air,” tuturnya. (ags/ags)