Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengungkapkan, posisi Berau akan menggantikan Kawasan Industri Bontang karena infrastrukturnya masih belum siap untuk mengakomodasi investor. Ia mengatakan, lokasi yang rencananya akan menjadi kawasan industri di Bontang tersebut masih tertutup hutan lindung.
"Infrastruktur di Berau lebih siap. Jadi, kami mempertimbangkan untuk mengganti Bontang menjadi Berau ke dalam POIZ," ujarnya, Selasa (20/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang, pemilihan Berau ini masih dirundingkan. Namun, dari ketiga kawasan industri sawit yang kami pilih, hanya Dumai yang kelihatannya sudah sangat siap untuk dimasuki investor," tegas dia
Tadinya, Kemenperin akan memilih satu di antara tiga kandidat kawasan industri yang telah ada (existing) untuk dijadikan fokus POIZ. Kawasan itu terdiri dari Sei Mangkei yang dikelola PT Perkebunan Nasional (PTPN) III, Kawasan Industri Dumai yang dikelola oleh Grup Wilmar, dan Kawasan Industri Bontang yang dikelola oleh PT Pupuk Kaltim (PKT).
Belakangan, Kemenperin memutuskan untuk menjadikan ketiga kawasan industri tersebut sebagai POIZ. Sementara itu, Malaysia sendiri tengah mempersiapkan lokus POIZ di Lahad Datu, Bintulu, dan Tanjung Manis.
Melengkapi ucapan Airlangga, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin Imam Haryono juga mengakui bahwa permintaan ini berasal dari investor. Kendati demikian, Kemenperin tak mau gegabah dalam mengabulkan keinginan investor.
"Kami masih dengar sudut pandang lain, cerita-cerita yang lain seperti apa. Ini kan harus pelan-pelan dalam membuat keputusan. Nanti coba kami lihat satu dua hari ke depan keputusannya seperti apa," terang Imam kepada CNN Indonesia.
Menurut data Kemenperin, total kapasitas produksi bahan baku minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan palm kernel oil (PKO) sebanyak 35,50 juta ton di tahun 2015. Sebanyak 15,15 juta ton atau 42,68 persen dari produksi CPO dialokasikan bagi industri hilir.
Nilai ekspor produk hilir kelapa sawit pada tahun 2015 sendiri tercatat US$24,77 juta dengan ragam produk hilir yang dihasilkan sebanyak 146 jenis. (bir/gen)