Pada kurun 1997-1998, Indonesia diketahui pernah menjalankan reformasi kebijakan yang disarankan oleh IMF sebagai prasyarat sebelum mendapatkan bantuan pendanaan untuk memulihkan krisis keuangan. Namun kini ia mengaku takjub, reformasi yang dilakukan oleh Jokowi berjalan tanpa tekanan dari lembaga pemberi utang manapun.
"Saya tidak pernah melihat di negara manapun yang lepas dari program IMF, bisa sangat sukses melakukan reformasi kebijakan dengan sangat disiplin. Biasanya banyak negara yang melakukan reformasi kebijakan karena tekanan IMF, karena keuangan negara itu tengah berdarah-darah dan mereka butuh bantuan IMF," ujar Sri Mulyani dalam acara International Forum on Economic Development and Public Policy di Nusa Dua, Bali, Kamis (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, biasanya suatu negara melakukan reformasi kebijakan yang sangat struktural pada saat negara tersebut tengah dilanda krisis. Ia menyinggung Indonesia pernah melakukan reformasi atas saran IMF.
Reformasi itu menyangkut mulai dari kebijakan pangan melalui Bulog hingga Mobil Nasional karena pada saat itu Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran yang dalam.
"Tapi Indonesia hari ini tidak di bawah IMF. Meskipun tidak dalam krisis, Indonesia punya paket reformasi yang sangat ambisius, Presiden Jokowi menunjukan kepemimpinan yang sangat ambisius yang kemudian memaksa seluruh kabinetnya melakukan reformasi," katanya.
Mantan Direkur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan reformasi kebijakan yang dilakukan Indonesia sama ambisiusnya seperti yang dilakukan oleh negara-negara lain.
"Namun yang membuat beda adalah, apa yang dilakukan oleh Presidennya turun sendiri untuk memastikan kemudahan berbisnis itu benar adanya," ujarnya.
Namun yang menjadi tantangan ke depan bagi Sri Mulyani yakni, bagaimana membuat 14 paket kebijakan yang sudah ditelurkan pemerintah bisa berjalan cepat dan terimplementasi ke seluruh wilayah Indonesia.
"Karena itu berhubungan dengan birokrasi yang sulit berubah dan penyakit struktural, dan ini membutuhkan leadership dari semua menteri-menteri di semua lini," pungkasnya. (gen)