API menilai, tahun ayam api akan menjadi titik balik pertumbuhan bisnis sektor tekstil, setelah mencatatkan pertumbuhan negatif dalam dua tahun terakhir ini. Ade Sudradjat, Ketua Umum API meyakini, pertumbuhan industri tekstil berkisar 1,6 persen-1,8 persen hingga akhir 2017 nanti, sesuai perhitungan Kementerian Perindustrian.
"Sebetulnya, tahun depan itu sentimennya masih negatif. Tetapi, karena Indonesia akan bergerak ke arah perjanjian EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (EU-CEPA) pada 2018, jadi persiapannya sudah bisa dirasakan tahun depan. Output sudah bisa dirasakan tahun depan," ujarnya, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/12)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini artinya, memang, banyak investor bersiap-siap untuk memanfaatkan akses pasar tekstil yang semakin terbuka. Karena pelemahan pertumbuhan tahun ini disebabkan oleh minimnya akses perdagangan bebas ke Eropa dan Amerika Serikat (AS). Sehingga, tekstil kita dikenakan bea masuk sebesar 11 persen. Hal tersebut diperparah dengan penurunan permintaan dunia juga kan," terang Ade.
Ade merinci, beban listrik di industri hulu tekstil berkisar antara 25 persen hingga 28 persen dari total komponen ongkos produksi. Sementara itu, beban listrik di industri pemintalan dan penenunan masing-masing tercatat 18 persen hingga 25 persen, dan 15 persen-22 persen dari total biaya produksi.
"Tahun ini kan tidak jadi diberlakukan, karena PT PLN (Persero) masih menunggu subsidi agar bisa memberlakukan diskon itu. Jadi, ya semoga tahun depan ini bisa dilaksanakan, karena memengaruhi daya saing industri tekstil juga," imbuhnya.
Sebagai informasi, Kementerian Perindustrian memprediksi pelemahan pertumbuhan industri tekstil sebesar 0,4 persen-0,8 persen hingga akhir tahun ini. Angka tersebut lebih baik ketimbang tahun sebelumnya dengan pelemahan pertumbuhan sebesar enam persen. (bir)