Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono mengatakan, pada Januari produksi cabai diperkirakan sebanyak 73 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 68 ribu ton.
"Dengan begitu, selama Januari ini produksi cabai surplus sebanyak 5 ribu ton. Untuk Januari, ini prognosa saya, sebenarnya surplus," katanya seperti dilansir dari Antara, Rabu (11/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dibagi per hari, hanya 35 gram (per kapita). Artinya kan tidak perlu terlalu panik," katanya.
Salah satu contohnya adalah di Kediri, yang saat ini memiliki areal pertanaman cabai seluas 5 ribu hektare begitu juga di Banyuwangi sekitar 4.500 hektare, serta Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.
Menurut dia, seharusnya masyarakat tidak perlu terlalu bergantung pada cabai rawit yang saat ini harganya melambung tinggi, karena masih ada cabai merah besar dan cabai keriting yang harganya lebih murah.
Pada kesempatan itu Dirjen Hortikultura meminta Bulog Sub Divisi Regional Malang dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) untuk mengirim cabai rawit ke Jakarta sebagai upaya untuk menekan harga cabe di Ibu Kota yang masih tinggi.
Tak hanya itu, ia menyatakan petani cabai rawit di desa tersebut bersedia menjual hasil produksinya seharga Rp35 ribu per kilogram, jauh lebih murah dari yang biasa dipatok para petani, yaitu Rp80 ribu per kilogram.
Dengan harga yang cukup murah dari petani, tambahnya, PPI dan Bulog bisa mendistribusikan cabe rawit tersebut dengan harga maksimal Rp50.000 sehingga diharapkan bisa menekan harga cabai yang semakin tinggi.
Nasri mengatakan produktivitas lahan tersebut sekitar 15 ton per hektare dalam sekali panen. Namun belum dapat dipastikan berapa kali hasil panen yang akan dikirim ke Jakarta guna menurunkan harga cabai.