Sicpa, SA adalah perusahaan multi nasional yang berkedudukan di Lausanne, Swiss yang memproduksi tinta sekuriti intaglio, optical variable ink (OVI) dan spark untuk pencetakan uang dan dokumen lain seperti paspor, pita cukai dan lainnya.
Khusus untuk SPS, tinta yang diproduksi sebagian besar adalah intaglio untuk memenuhi kebutuhan Peruri di dalam mencetak uang NKRI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain ingin memiliki suara lebih dalam setiap pengambilan keputusan bisnis SPS, Prasetio menyebut aksi menambah saham di perusahaan tersebut juga akan mendukung terjadinya alih ilmu ke perusahaan yang dipimpinnya.
“Kami ingin kepemilikan Peruri terus naik. Semoga 5 tahun ke depan cita-cita menjadi pemegang saham mayoritas dapat direalisasikan,” kata Prasetio.
SPS didirikan pada 2002 sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan tinta sekuriti Peruri menjalankan penugasan sesuai dengan Peraturan Pemerintah untuk mencetak uang NKRI dan empat produk utama lainnya, yaitu pita cukai, paspor, meterai dan buku pertanahan. Sepanjang 2016, pendapatan SPS mencapai Rp477 miliar dengan laba bersih Rp9,2 miliar.
“Kami meminta manajemen SPS agar pada tahun-tahun yang akan datang dapat membuka pasar internasional sehingga membantu Peruri Go Global dan Digital. Jangan hanya memenuhi kebutuhan Peruri saja,” pungkasnya. (gen)