Menurut Darmin, keputusan The Fed mengerek suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) hanya akan memberi gejolak sementara bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, fondasi ekonomi dalam negeri cukup kuat tercermin dari pertumbuhan ekonomi 5,02 persen atau ketiga tertinggi di dunia, setelah India dan China.
"Tentu saja, ada pengaruhnya. Tetapi, kami tidak memperhitungkan terlalu lama, sementara saja. Kenaikan 0,25 tidak besar," ujarnya, Kamis (16/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebut saja, meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang dibidik mampu tumbuh dikisaran 5,1 persen, memanaskan kembali sejumlah roda industri dalam negeri, hingga menjaga pasokan dan harga komoditas agar tak terus mengerek laju inflasi yang ditargetkan tak melampaui empat persen.
Deputi Komisioner Manajemen Strategis IA OJK Imansyah mengungkapkan, hal ini terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih menunjukkan kondisi yang baik. Bahkan tumbuh 1,75 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan posisi level 5.386,9 pada akhir Februari lalu.
"Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) relatif stabil, dan investor asing membukukan nett buy sebesar Rp6,4 triliun pada Februari 2017. Secara year to date, nett buy sebesar Rp26,1 triliun," kata Imansyah.
Seperti diketahui, The Fed kembali mengerek FFR sebesar 25 bps sehingga tingkat FFR merangkak dari 0,75 persen menjadi satu persen. Sebelumnya, Gubernur The Fed Janet Yellen mengatakan, The Fed akan mempercepat kenaikan FFR yang terakhir kali terjadi pada Desember 2016.
Adapun, rencananya, The Fed akan mengerek FFR kembali pada tahun ini. Pelaku pasar memprediksi, hal ini akan dilakukan Yellen pada Juni dan Desember mendatang.