Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Eni V Panggabean menjelaskan, pada dasarnya kedua jenis usaha tersebut tidak mengantongi izin sebagai Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) atau money changer yang dikeluarkan oleh bank sentral.
"Tidak boleh mereka harus membuat PT khusus yang bergerak di bidang KUPVA, fungsinya hanya untuk jual beli bank notes atau uang kertas asing," ujar Eni di Semarang, Rabu (29/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BI mencatat kegiatan usaha money changer Bukan Bank (BB) banyak ditemukan di sebagian besar di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Kalimantan. Sedangkan kegiatan money changer yang dilakukan oleh toko emas banyak ditemukan di Pulau Sumatera atau 87 persen dari kegiatan jual beli valas di pulau tersebut,
Bank sentral juga akan memperketat pengawasan terhadap money changer dan memastikan penukaran mata uang hanya dilakukan oleh pihak yang memiliki izin untuk itu.
Money changer di Jakarta. (ANTARA FOTO/Gunawan Wibisono) |
Peraturan tersebut ditujukan untuk menegakkan kedaulatan Rupiah di NKRI dan sekaligus mendukung stabilitas ekonomi makro.
Ketentuan yang dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17/3/PBI/2015 tanggal 31 Maret 2015 tersebut mengatur bahwa setiap transaksi yang dilakukan di wilayah NKRI wajib menggunakan Rupiah.
Namun, ketentuan tersebut memberikan pengecualian untuk transaksi-transaksi dalam rangka pelaksanaan APBN, perdagangan internasional, pembiayaan internasional yang dilakukan oleh para pihak yang salah satunya berkedudukan di luar negeri, kegiatan usaha bank dalam valuta asing yang dilakukan sesuai undang-undang yang mengatur mengenai perbankan dan perbankan syariah.
Money changer di Jakarta. (ANTARA FOTO/Gunawan Wibisono)