Dikutip dari Reuters, pemadaman operasi secara tak terduga di Lapangan Buzzard, laut Utara Inggris sebesar 180 ribu barel per hari telah menyokong penguatan harga minyak sejak Selasa pekan ini.
Namun, harga minyak langsung berubah melemah setelah Energy Information Administration (EIA) AS mengumumkan peningkatan persediaan minyak AS 1,6 juta barel pada pekan lalu. Angka ini jauh berbeda dibandingkan prediksi analis yang meramal penurunan persediaan sebesar 435 ribu barel pada pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, harga Brent berjangka tercatat meningkat US$0,19 per barel ke angka US$54,36. Padahal, pada pertengahan sesi, harga Brent sempat mencapai US$55,09 per barel.
Meski persediaan minyak AS tercatat selalu meningkat, Standard Chartered mengatakan bahwa persediaan minyak saat ini tercatat lebih rendah dibanding sebelumnya. Riset tersebut mengatakan, total persediaan minyak turun 2 juta barel terhadap rerata lima tahun terakhir.
OPEC dan negara-negara non-OPEC, termasuk Rusia, masih sepakat untuk memangkas produksi harian sebesar 1,8 juta barel per hari dan mempertimbangkan untuk memperpanjang kebijakan tersebut di paruh kedua tahun 2017.