Dikutip dari Reuters, fraksi bersenjata telah memblokir produksi di lapangan minyak Sharara dan Wafa yang terletak di Libya barat. Hal itu mengurangi produksi sebesar 252 ribu barel per hari atau sepertiga dari total produksi Libya.
Oleh karenanya, perusahaan minyak Libya (National Oil Corp/NOC) telah mendeklarasikan kegagalan memenuhi kontrak (force majeure) untuk kedua lapangan minyak tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara non-OPEC Rusia diperkirakan akan ikut bergabung. Selain itu, negara non-OPEC lainnya, Azerbaijan juga mengatakan kesiapannya untuk ikut serta.
Kendati demikian, peningkatan produksi minyak AS masih membayangi harga minyak. Poling analis menunjukkan bahwa persediaan minyak AS diperkirakan akan meningkat 1,4 juta barel pada pekan lalu.
Data API juga menunjukkan, persediaan minyak di hub minyak berjangka di Cushing, negara bagian Oklahoma menurun 576 ribu barel pada pekan lalu.
Meningkatnya persediaan di Cushing kerap menekan harga minyak AS. Naiknya produksi domestik telah memperlebar jarak antara harga minyak WTI dengan Brent. Perbedaan harga kedua minyak ini tercatat yang paling besar setelah AS menghapuskan kebijakan pelarangan ekspor minyak di akhir 2015.