Mengingat Lagi Mimpi Soekarno Sulap Palangkaraya jadi Ibukota

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Senin, 10/04/2017 17:12 WIB
Mantan Presiden Soekarno sudah meramalkan pertumbuhan ekonomi dan populasi di Provinsi Jakarta dan Pulau Jawa tidak akan terkendali sejak 1957 silam. Mantan Presiden Soekarno sudah meramalkan pertumbuhan ekonomi dan populasi di Provinsi Jakarta dan Pulau Jawa tidak akan terkendali sejak 1957 silam. (Dokumentasi Perpustakaan Nasional)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Presiden Soekarno sudah meramalkan pertumbuhan ekonomi dan populasi di Provinsi Jakarta dan Pulau Jawa tidak akan terkendali sejak 1957 silam.

Hal tersebut yang membuat presiden pertama Indonesia tersebut memunculkan wacana menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota Indonesia menggantikan peran Jakarta.

Wacana tersebut dituangkan Wijanarka dalam buku berjudul 'Soekarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya' yang menyaksikan langsung dua kali kunjungan Soekarno ke Palangkaraya pada medio 1950-an.


“Jadikanlah Kota Palangkaraya sebagai modal dan model,” ujar pria yang lebih populer disapa Bung Karno saat pertama kali menancapkan tonggak pembangunan Palangkaraya pada 17 Juli 1957, dikutip dari buku tersebut.

Dalam dua kali kunjungannya ke salah satu kota di Provinsi Kalimantan Tengah tersebut, Soekarno bisa menilai kuatnya potensi kota tersebut sebagai pusat pemerintahan di masa mendatang seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk Jakarta.

Beberapa pertimbangan Soekarno menjadikan Palangkaraya sebagai pusat pemerintahan tidak lepas dari fakta bahwa Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia dan letaknya di tengah-tengah gugus Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kedua, menghilangkan sentralistik Jawa. Selain itu, pembangunan di Jakarta dan Jawa adalah konsep peninggalan Belanda. Soekarno ingin membangun ibukota dengan konsepnya sendiri. Bukan peninggalan penjajah,” catat Wijanarka.

Palangkaraya juga memiliki potensi sungai Kahayan, seperti halnya Ciliwung yang membelah Jakarta. Ayah dari Megawati Soekarnoputri dari dulu sudah memiliki visi memadukan konsep transportasi sungai dan jalan raya, seperti di negara-negara lain.

"Janganlah membangun bangunan di sepanjang tepi Sungai Kahayan. Lahan di sepanjang tepi sungai tersebut, hendaknya diperuntukkan bagi taman sehingga pada malam yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah pada saat orang melewati sungai tersebut," kata Soekarno.

Untuk mewujudkan pemindahan ibukota ke Palangkaraya, Wijanarka mencatat Soekarno sudah menceritakan idenya tersebut kepada beberapa orang insinyur asal Rusia yang lantas membangun jalan raya di lahan gambut.

Namun, mimpi Soekarno menyulap Palangkaraya sebagai ibukota Indonesia kandas seiring dengan terpuruknya perekonomian Indonesia di awal 1960-an. Puncaknya pasca 1965, Soekarno dilengserkan, presiden selanjutnya Soeharto tak ingin melanjutkan rencana pemindahan ibukota ke Kalimantan. Jawa kembali jadi sentral semua aspek kehidupan.