Di Hadapan MUI, Jokowi Kritik Penikmat Pertumbuhan Ekonomi

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Sabtu, 22/04/2017 16:37 WIB
Di Hadapan MUI, Jokowi Kritik Penikmat Pertumbuhan Ekonomi Presiden Joko Widodo mempertanyakan siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang tumbuh 5,02 persen pada tahun lalu. (AFP PHOTO / GOH CHAI HIN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo mempertanyakan siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang tumbuh 5,02 persen pada tahun lalu.

Hal itu disampaikannya saat membuka Kongres Ekonomi Umat (KEU) yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada hari ini. Dia menyatakan di tengah situasi ekonomi yang sulit, Indonesia justru bisa tumbuh 5,02 persen.

Walaupun demikian, Jokowi mengatakan dampak pertumbuhan ekonomi ini perlu dipertanyakan. Sebab, menurutnya, kesenjangan sosial di tengah masyarakat hanya mengalami penurunan sedikit pada Maret 2016.


Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), rasio Gini pada Maret 2016 berada di angka 0,397. Angka ini turun sebesar 0,005 dari catatan pada September 2015.

"Tetapi, 5,02 persen perlu dilihat detail siapa yang menikmati, lalu Gini ratio kita sudah menurun sedikit demi sedikit, kita ingin Gini ratio turun lebih banyak lagi," katanya.

Oleh karen itu, Jokowi meminta masukan dari MUI terkait dengan pengembangan ekonomi umat.

Dia meminta MUI dapat membantu dan bersinergi dengan pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan dan keumatan.

Dia pun mendorong MUI mempelajaro lebih dalam tentang masalah perekonomian di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

"Kami menunggu masukan dari kongres ini untuk kepentingan rakyat, untuk kepentingan masyarakat, untuk kepentingan umat," kata Jokowi.

Ketimpangan Sosial

Ketua Bidang Ekonomi MUI Lukmanul Hakim menyampaikan, posisi Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga belum berhasil mengentaskan ketimpangan sosial.

Menurutnya, ketimpangan semakin terlihat ketika ada lembaga macam Oxfam yang merilis soal ketimpangan.

Diketahui, lembaga itu menyatakan Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat ketimpangan terburuk.

Lukmanul menuturkan apabila hal ini tak bisa diatasi dengan segera, maka dapat menjadi gejolak baru dalam sektor ekonomi. "Hal ini akan didalami dalam kongres ekonomi umat. Ini bisa berikan sumbangsih bagi ekonomi Indonesia," tuturnya.

Kongres diikuti oleh pengurus MUI tingkat daerah, organisasi masyarakat Islam, perwakilan perguruan tinggi, pengusaha, dan asosiasi ekonomi. Peserta kongres diperkirakan mencapai 500 orang.