Berbicara di hadapan Kongres Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI), Senin (24/4), JK menyebut kebijakan di periode kedua SBY menjabat presiden yaitu suku bunga KUR pengusaha besar yang diturunkan menjadi 11 persen, sementara untuk pengusaha kecil naik sampai 23 persen, justru mencekik pengusaha kecil.
(Dalam catatan CNNIndonesia.com, lima tahun lalu skema KUR Mikro dikenakan suku bunga kredit maksimal 22 persen per tahun, sementara skema KUR Ritel dikenakan suku bunga kredit maksimal 12 persen per tahun).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini bukan pertama kalinya JK mengkritik kebijakan suku bunga KUR pada era SBY. Pada pertengahan Januari lalu, JK juga sempat mengutarakan hal serupa di hadapan forum Kamar Dagang Indonesia Jawa Barat.
"Pertama kebijakan 1973, di situ muncul pengusaha-pengusaha pribumi, yang masuk ke devisa, termasuk bapak saya. Dan banyak pengusaha yang senior banyak muncul," kata JK.
Kemudian, masih menurut JK, kebijakan lain yang mendorong lahirnya pengusaha adalah dua Keputusan Presiden (Keppres), yaitu Nomor 18 dan 15, yang lahir pascaperistiwa Malari dan mulai mendahulukan pengusaha daerah.
Sementara kebjiakan ketiga yang dinilainya berpihak pada rakyat adalah pada 10 tahun silam ketika lahirnya Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan KUR ini lahir di era SBY pertama kali menjabat sebagai presiden dengan JK sebagai wakil.
Janji Turunkan KUR
Dalam penutupan Kongres Ekonomi Umat itu, JK juga berjanji pemerintah saat ini akan berupaya menurunkan suku bunga KUR menjadi tujuh persen, dari saat ini sembilan persen. Pemerintah disebutnya akan mencari subsidi untuk menurunkan suku bunga.
Dengan turunnya jumlah suku bunga KUR sampai tujuh persen, kata JK, pasti akan berdampak kepada penutupan sejumlah bank berskala kecil.
"Kami akan turunkan tujuh persen dengan subsidi. Jadi akan mati semua bank-bank yang mau makan rentenya. Semua bank yang mau hidup dari ribanya akan mati. Kami akan matikan, bukan sengaja tapi mati sendiri," kata dia.
Hal itu menurutnya, dianggap lebih baik daripada masyarakat tidak dapat bekerja karena faktor tersebut. "Tapi tentu lebih baik mereka tidak bisa kerja (bank kecil) dibandingkan rakyat tidak bisa kerja. Rakyat harus kerja, harus dapat layanan lebih baik," ungkap JK.
Lebih lanjut, sedikitnya ada sekitar Rp120 triliun yang sudah disiapkan pemerintah dalam bekerjasama dengan bank untuk menekan suku bunga KUR. Tiga bank akan dilibatkan, seperti Mandiri, BNI dan BRI.
"Jangan pula karena ingin eksklusif, kami bikin bank atau bikin apa, BPR-BPR bunganya 25% padahal BNI BRI menyiapkan bunganya sembilan persen. Supaya jangan mati chaneling saja dengan BRI, BNI, Mandiri, itu akan hidup," kata JK.