Dikutip dari Reuters, Energy Information Administration AS mengatakan bahwa persediaan minyak menyusut 3,6 juta barel pada pekan lalu, atau melebihi prediksi analis. Data milik pemerintah AS ini terbilang mengejutkan mengingat data American Petroleum Institute (API) sehari sebelumnya menunjukkan peningkatan stok minyak.
Hal ini memicu aksi beli setelah sebelumnya aksi jual mewarnai sesi perdagangan minyak beberapa hari sebelumnya. Aksi jual sebelumnya dilakukan karena pelaku pasar cemas jika persediaan minyak global masih terjadi di tengah upaya organisasi negara-negara produsen minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) membatasi produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, laporan EIA juga menunjukkan adanya pertumbuhan stok bensin dan produk distilasi. Utilisasi pengilangan AS meningkat ke angka 94,1 persen, atau tertinggi sejak November 2015, sehingga mendorong persediaan bensin menjadi 241 juta barel.
Sayangnya, analis masih memperkirakan bahwa permintaan bensin AS akan terus melemah. Hal ini dikhawatirkan akan membebani harga minyak di kemudian hari.
Namun, harga Brent dan WTI diperkirakan mendapat sokongan setelah Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan tertarik untuk mengetahui perbincangan antara negara-negara OPEC dan non-OPEC untuk menstabilkan harga.
Sebelumnya, OPEC dan produsen lainnya sepakat untuk mengurangi produksi sebesar 1,8 juta barel per hari sepanjang paruh pertama 2017. OPEC akan bertemu kembali pada bulan Mei mendatang untuk membahas perpanjangan periode pembatasan produksi.