Yang pertama, Freeport dituding menggunakan kawasan hutan lindung dalam kegiatan operasionalnya dengan luasan mencapai 4.535,9 hektare (ha). Menurut BPK, hal ini bertentangan dengan Undang-Undang (UU) Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999 dan UU Nomor 19 Tahun 2004.
Sementara itu, lahan hutan lindung sudah menjadi objek Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2008. Dengan menghitung periode pemberlakukan PNBP selama tujuh tahun hingga 2015, maka terdapat potensi kehilangan PNBP senilai Rp270,83 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, analisis Sistem Informasi Geografis menemukan bahwa pelaksanaan reklamasi dilakukan di blok-blok yang tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Akibatnya, pemerintah mencairkan kelebihan jaminan dana reklamasi milik Freeport.
Menurut BPK, kewajiban ini perlu dilakukan karena dana pasca tambang sudah diatur di dalam pasal 26 Kontrak Karya antara pemerintah dan perusahaan. Selain itu, kewajiban tersebut juga tercantum di dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2014.
Kendati demikian, perusahaan, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kabupaten Mimika telah menandatangani partisipasi pembangunan berkelanjutan untuk sistem pengelolaan tailing sebagai bentuk kompensasi yang ditimbulkan Freeport pada 17 April 2012 silam. Tercatat, Freeport sudah membayar dana tersebut Rp155,81 miliar kepada Kabupaten Mimika dan Rp187,31 miliar ke Provinsi Papua dalam kurun waktu 2011 hingga 2015.
Dengan demikian, BPK menghitung bahwa total potensi kerugian yang diakibatkan dari operasional Freeport berada di kisaran Rp185 triliun hingga Rp186 triliun. Selain kerugian berdampak finansial, BPK juga menemukan satu pelanggaran lain, yaitu kegiatan pertambangan Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan perpanjangan tanggul barat dan timur tanpa izin lingkungan .
Sayangnya, hingga saat ini, Juru Bicara Freeport Riza Pratama belum menanggapi pesan singkat CNN Indonesia terkait laporan yang dikeluarkan BPK tersebut.