"Ada penurunan laba itu konsekuensi daripada santunan naik 100 persen, " ujar Direktur Utama Jasa Raharja Budi Setyarso saat ditemui di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jumat (12/5).
Meskipun laba diproyeksikan turun, Budi tidak khawatir. Pasalnya, kenaikan besaran santunan merupakan bentuk peningkatan pelayanan negara kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun pada tahun lalu, Jasa Raharja mencatatkan pendapatan premi bruto sebesar Rp4,05 triliun, naik 3,6 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp3,91 triliun.
"Kami usahakan dengan investasi mungkin pendapatan (tahun ini) bisa tumbuh sampai delapan persen," ujarnya.
Saat ini, menurut Budi, sekitar 80 persen dana yang dikelola ditempatkan di deposito perbankan. Sementara itu, sisa dana yang dikelola ditempatkan pada instrumen investasi lain seperti saham.
Sebagai informasi, kenaikan besar santunan Jasa Raharja diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15/PMK.010/2017 tentang besar santunan dan iuran wajib dana pertangungan wajib kecelakaan penumpang alat angkutan penumpang umum di darat, sungai/danau, feri/penyeberangan, laut, dan udara dan PMK 16/PMK. 010/2017 tentang besar santunan dan sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan yang mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2017 mendatang.
Sesuai ketentuan tersebut, besaran santunan meninggal dunia naik dari Rp25 juta menjadi Rp50 juta. Santunan cacat tetap (berdasarkan presentase tertentu) naik dari maksimal Rp25 juta menjadi Rp50 juta. Kemudian santunan biaya perawatan luka-luka naik dari semula maksimal Rp10 juta menjadi Rp 20 juta, serta biaya penguburan jika tidak terdapat ahli waris naik dari Rp2 juta menjadi Rp4 juta.