Penyaluran KPR Kembali Melambat

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 02/06/2017 11:15 WIB
Penyaluran KPR Kembali Melambat Per April 2017, penyaluran kredit properti secara keseluruhan tercatat Rp722 triliun atau tumbuh 14,3 persen (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya 15,2 persen (yoy). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah sempat meningkat dalam beberapa bulan terakhir, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen (KPR dan KPA) kembali tumbuh melambat.

Berdasarkan data uang beredar Bank Indonesia, penyaluran KPR/KPA tumbuh 7,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 375,6 triliun pada April 2017. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, 8,4 persen (yoy).

Perlambatan juga terjadi pada kredit real estate dan konstruksi. Per April lalu, Kredit tumbuh 25,2 persen (yoy) menjadi Rp218,7 trliun pada April 2017, atau melambat dari bulan sebelumnya 26,1 persen (yoy). Sementara itu, kredit real estate tumbuh 17,7 persen (yoy) menjadi Rp127,7 triliun, melambat dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 20 persen (yoy)


Sementara itu, kredit real estate juga turun dari 20 persen (yoy) pada Maret 2017 menjadi Rp127,7 triliun 17,7 persen (yoy).

Adapun penyaluran kredit properti secara keseluruhan tercatat Rp722 triliun atau tumbuh 14,3 persen (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya 15,2 persen (yoy).

Perlambatan penyaluran kredit properti antara lain dialami oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Bank yang fokus menyalurkan kredit ke sektor perumahan ini mencatat penyaluran KPR pada April melambat dari bulan sebelumnya sebesar 18,71 persen (yoy) menjadi 17,9 persen (yoy).

Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Iman Nugroho Soeko menduga, perlambatan tersebut disebabkan tak adanya ada pameran properti besar yang digelar oleh BTN pada bulan ini. Adapun pada kuartal I lalu, BTN menggelar Indonesia Property Expo 2017 yang menawarkan banyak promosi dan keringanan KPR bagi nasabah.

"Untuk BTN (pertumbuhan kredit) masih on track, biasanya semester II pertumbuhan (kredit) akan lebih menguat," ujar Iman melalui pesan singkat kepada CNNINdonesia.com, Kamis [1/6].

Adapun Kepala Ekonom BTN Winang Budoyo menjelaskan, permintaan kredit properti, khususnya KPR dan KPA di awal tahun memang biasanya belum optimal. Penyebabnya bisa beberapa faktor, diantaranya daya beli masyarakat yang baru mulai naik tetapi belum kuat, sebagian dana masyarakat sudah digunakan untuk membayar uang tebusan amnesti pajak, atau karena bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit untuk menekan rasio kredit bermasalah.

Melihat perkembangan pada April 2017, Winang memperkirakan pertumbuhan kredit KPR dan KPA di kuartal II 2017 akan cenderung stagnan dibandingkan kuartal sebelumnya.

"Mei dan Juni pasti banyak yang fokus pada pengeluaran untuk puasa dan lebaran maka bisa jadi kuartal II (pertumbuhan kredit KPR dan KPA) stagnan dibanding kuartal I," jelas Winang secara terpisah.

Kendati demikian, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kinerja KPR dan KPA tahun ini masih tumbuh lebih baik. Pasalnya, penyaluran KPR dan KPA pada April 2016 hanya tumbuh 8 persen (yoy).

Adapun kredit konstruksi pada April 2016 tumbuh 14,2 persen (yoy), dan real estate 18,8 persen (yoy). Sementara itu, kredit properti secara keseluruhan tumbuh 11,4 persen (yoy)

Secara umum, kredit yang disalurkan oleh perbankan pada April 2017 tercatat sebesar Rp4.414,6 triliun atau tumbuh 9,3 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,1 persen (yoy).