Daya Saing Sektor Digital Indonesia Masih di Posisi Buncit

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Senin, 05/06/2017 08:05 WIB
Daya Saing Sektor Digital Indonesia Masih di Posisi Buncit Pada tahun ini, peringkat daya saing Indonesia di sektor digital naik satu peringkat ke posisi 59 dari 63 negara. (tunechick83/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kendati perkembangan perusahaan-perusahaan berbasis teknologi cukup signifikan dalam setahun terakhir, Indonesia ternyata masih menempati posisi terbawah terkait daya saing pada sektor digital. Posisi Indonesia, sejajar dengan Ukraina, Mongolia, dan Peru.

Berdasarkan laporan daya saing global yang dipublikasi IMD World Competitivenes Ranking 2017, posisi daya saing sektor digital Indonesia berada pada peringkat 59 dari 63 negara di seluruh dunia. Peringkat tersebut sebenarnya sudah naik satu peringkat dibandingkan tahun lalu. 

"Negara-negara ini tidak hanya berperingkat terrendah dalam bakat, tapi mereka juga tidak berinvestasi untuk mengembangkan bakat yang dimiliki," ujar Direktur IMD World Competitiveness Center


Kendati demikian, peringkat daya saing Indonesia dalam berbisnis dan investasi justru menunjukkan perbaikan posisi yang cukup signifikan. Pada tahun ini, Indonesia berhasil naik enam peringkat ke posisi 42 dari 63 negara. Kenaikan tersebut, membuat Indonesia berhasil menyalip India yang turun empat tingkat ke posisi 45, Rusia yang turun dua tingkat ke posisi 46, dan Turki yang anjok sembilan tingkat ke posisi 47.

“Negara-negara ini menjaga iklim bisnis yang mendukung keterbukaan serta produktivitas," terang Arturo Bris.

Diposisi buncit, terdapat Venezuela, Ukraina, Mongolia dan Brasil. Negara-negara tersebut merupakan negara yang kondisi politik dan sosialnya tidak stabil selama dua tahun terakhir.

IMD World Competitiveness Center merupakan sekelompok peneliti dari IMD Business School yang berkedudukan di Swiss dan telah membuat publikasi tentang daya saing ekonomi negara-negara di dunia setiap tahun sejak 1989. Dalam mengukur daya saing, IMD menggunakan sebanyak 260 indikator penilaian, dua per tiga berasal dari data-data yang sulit seperti angka tenaga kerja nasional dan statistik perdagangan.

Parameter daya saing tersebut juga ditentukan oleh kekuatan ekspor-impor, manufaktur, regulasi yang ramah terhadap dunia bisnis, infrastruktur yang saling mendukung dan promosi dalam inklusifitas lembaga.