Yanuar menilai, dari fungsi wakil ketua yang saat ini dijalankan oleh Rahmat Waluyanto, Wakil Ketua DK OJK saat ini, fungsi yang cenderung dijalankan adalah mengurus internal OJK agar lebih bisa berkembang. Sedangkan, pengambilan kebijakan lebih dijalankan oleh Muliaman. Dengan begitu, Agus lebih berpotensi didapuk menjadi wakil ketua karena memiliki kecakapan dari sisi pengaturan institusi.
"Kalau seperti itu, mungkin lebih ke Agus Santoso yang dulunya di PPATK. Karena dari sisi Panitia Seleksi (Pansel), saya melihat ada kecenderungannya lebih ke Agus. Tapi tetap tergantung bagaimana DPR melihat fungsi wakil tersebut karena profil keduanya tak jauh berbeda," tutur Yanuar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin kalau Wimboh yang terpilih, Riswinandi bisa masuk untuk mengimbangi karena berlatarbelakang pelaku industri. Tapi kalau Sigit, mungkin bisa Agus Santoso yang lebih ke birokrat. Pokoknya harus dicampur, mengimbangi," kata Aviliani.
Aviliani menilai, tak goyahnya sosok Nurhaida di bursa DK OJK lantaran selama ini, pengawasan atas pasar modal yang dijalankan Nurhaida, dinilainya cukup baik. Artinya, kinerja Nurhaida mampu meyakinkan Pansel dan Presiden untuk membawa tongkat estafet penjalanan fungsi OJK di periode berikutnya.
Sedangkan Yanuar melihat, kemampuan politik yang menjadi penyelamat Nurhaida, sehingga masih bisa bertarung di bursa DK OJK Periode 2017-2022. Sebab, kinerja Nurhaida di pasar modal, dinilainya biasa saja.
Sementara, saingan Nurhaida pada jabatan pengawas pasar modal ialah Arif Baharudin. Arif saat menjabat sebagai Sekretaris Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Sebelumnya, Arif merupakan mantan Kepala Pusat Harmonisasi Kebijakan BKF.
Wimboh Santoso. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)