Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, Ferrostaal antusias menanamkan modalnya di Teluk Bintuni. Tak tanggung-tanggung, nilai proyek ini diperkirakan mencapai US$2,8 miliar atau setara Rp36,4 triliun.
Proyek petrokimia racikan Ferrostaal ini direncanakan sejak 2011 silam. Perseroan berminat menggarap proyek ini karena dijanjikan pasokan gas yang berlimpah ruah. Pasokan gas oleh BP Berau Ltd berasal dari Blok Tangguh sebesar 90 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan Genting Oil Pte Ltd dari Blok Kasuri sebesar 170 MMSCFD.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia mendesak, pemerintah dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pengelola dua lapangan migas itu segera memastikan harga gas yang bisa diserap oleh Ferrostaal.
Sembari menunggu kesepakatan harga gas, Ferrostaal juga masih menyusun kajian kecakapan finansial (Bankable Feasibility Study/BFS) yang akan rampung akhir bulan ini. Pada saat yang bersamaan, ia juga berjanji harga gas dari Genting dan BP sudah bisa ditentukan.
Achmad menuturkan, pelaksanaan BFS ini penting demi menentukan posisi investasi Ferrostaal bersama rekan-rekan konsorsiumnya. Jika memang BFS terbilang mumpuni, ada kemungkinan Ferrostaal mengambil porsi kepemilikan yang besar di Joint Venture (JV) proyek petrokimia Teluk Bintuni.
Rencananya, proyek petrokimia di Teluk Bintuni ini bisa menghasilkan produk metanol sebesar 1,8 juta ton yang kemudian diturunkan menjadi polyethylene dan polyprophylane sekitar 400 ribu ton.
Adapun, kawasan industri Teluk Bintuni yang seluas 2.344 hektare ini nantinya memang diperuntukkan bagi pengembangan industri petrokimia dan pupuk dengan proyeksi investasi sebesar US$ 10 miliar.