Harga Saham Induk Usaha 7-Eleven Mandek

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Senin, 03/07/2017 10:50 WIB
Harga Saham Induk Usaha 7-Eleven Mandek Harga saham induk usaha PT Modern Sevel Indonesia dibuka di level paling bawah, yaitu Rp50 per saham pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (3/7). (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Usai libur lebaran, harga saham PT Modern Internasional Tbk (MDRN), induk usaha PT Modern Sevel Indonesia, dibuka di level paling bawah, yaitu Rp50 per saham pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (3/7).

Terpantau, harga sahamnya sudah berada di batas bawah sejak 19 Juni 2017 lalu. Salah satu pemicunya, yakni rencana akuisisi 7-Eleven oleh PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang diikuti dengan penutupan seluruh gerai pada 30 Juni 2017.

Menilik pergerakan harga saham MDRN sejak awal Juni, memang harganya terbatas pada level Rp50 - Rp55 per saham. Sejak awal tahun ini, bahkan harga sahamnya hanya bergerak di kisaran Rp60 - Rp98 per saham.


Analis Samuel Sekuritas Muhammad Al Fatih mengungkapkan, harga saham tersebut mencerminkan kinerja dari perusahaan yang memang tak kunjung membaik. Bahkan, saat rencana akuisisi oleh Charoen Pokphand mencuat sekalipun, harga sahamnya tak serta merta meroket.

"Pelaku pasar menunggu (wait and see) saat berita akuisisi itu. Jadi, naiknya pun tidak banyak," ujar Al Fatih kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/7).

Mengutip laporan keuangan perusahaan pada kuartal I 2017, kerugian tercatat sebesar Rp456,14 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan masih membukukan laba bersih sekitar Rp21,7 miliar.

Menurut Al Fatih, penutupan seluruh gerai secara resmi pada akhir Juni telah membuat harga saham perusahaan semakin sulit bergerak. Harganya pun sudah berada di batas terbawah, sehingga mustahil untuk turun lagi lagi.

"Tidak berubah. Kan yang diharapkan berita baik, jadi naik. Harga sudah di batas bawah," imbuhnya.

Ironisnya, saham MDRN sendiri boleh dibilang tidak termasuk saham likuid di pasar reguler. Alasannya, lagi-lagi, perkembangan bisnis perusahaan yang tidak membaik tahun ini.