Sebagai contoh, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, The Coca Cola Company mempertanyakan aturan lelang gula rafinasi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16 Tahun 2017. Perusahaan menganggap, aturan ini mengubah skema penyediaan gula secara business to business yang dijalankan selama ini.
"Oleh karena itu, Kemenperin akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Perdagangan sehingga bahan baku untuk industri tidak terganggu," ujar Airlangga melalui siaran pers dikutip Jumat (4/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"GE punya pabrik boiler di Surabaya, namun selama ini utilisasinya sangat rendah. Belum ada pembelian sampai sekarang," katanya.
"Mereka khawatir akan menimbulkan gangguan dalam suplai bahan baku atau rencana pengembangan riset dan pengembangan di Indonesia," ujar Airlangga.
Namun, tak hanya hujan keluhan yang diterima pemerintah di dalam pertemuan itu. Airlangga menuturkan, Ketua Delegasi AS juga memberikan apresiasi terhadap tiga skema TKDN yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 65 Tahun 2016. Adapun, tiga skema tersebut terdiri dari jalur piranti keras, piranti lunak, dan inovasi.
"Dalam pertemuan, ada banyak hal yang dipertanyakan oleh delegasi Amerika. Intinya mereka meminta kepastian regulasi hingga terbukanya akses bahan baku di Indonesia," lanjut Airlangga.
Ia menuturkan, kerja sama kedua negara di bidang industri manufaktur perlu ditingkatkan. Apalagi, AS merupakan salah satu mitra ekonomi terbesar bagi Indonesia.
Kemenperin mencatat, AS merupakan mitra dagang terbesar ketiga setelah China dan Jepang dengan nilai US$23 miliar sepanjang tahun 2016. Selain itu, menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi AS di Indonesia di tahun yang sama mencapai US$1,16 miliar di tahun yang sama, atau 4 persen dari total Penanaman Modal Asing (PMA) ke Indonesia sebesar US$28,96 miliar.
Lihat juga:Jokowi: Perizinan Investasi Lama, Memalukan |