Daya Beli Unjuk Gigi di Perhelatan Nike Bazaar

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 23/08/2017 17:10 WIB
Antrean pengunjung mengular hingga penyelenggara terpaksa memberlakukan sistem buka tutup dan hanya diberikan waktu setengah jam. Antrean pengunjung mengular hingga penyelenggara terpaksa memberlakukan sistem buka tutup dan hanya diberikan waktu setengah jam. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Iming-iming potongan harga agaknya sukses menggugah minat belanja masyarakat. Tengok saja, antrean mengular di perhelatan Nike Bazaar di pusat perbelanjaan Grand Indonesia yang digelar sejak 21 Agustus hingga 27 Agustus 2017 mendatang.

Bahkan, pihak penyelenggara, salah satu distributor Nike Air Indonesia mengaku, terperanjat kaget melihat antusiasme masyarakat yang rela antre berjam-jam demi mendapatkan produk sepatu asal Amerika Serikat (AS) tersebut. Kondisi ini berlawanan dengan tren konsumen yang dianggap sedang 'puasa' belanja.

"Kami tidak menyangka pengunjung bakal seramai itu. Begitu kami melihat animo pengunjung seperti itu, sekarang kami atur (sistem kunjungannya)," tutur sumber CNNIndonesia.com yang enggan disebutkan namanya, Rabu (23/8).


Selama acara berlangsung, penyelenggara menawarkan sekitar 27 ribu produk. Sebagian besar produk adalah sepatu olah raga. Kemudian, kaus, topi, serta perlengkapan olah raga lainnya.

Potongan harga tertinggi yang ditawarkan mencapai 90 persen dari harga normal. Pengunjung bisa mendapatkan diskon tambahan apabila berbelanja dengan kartu kredit besutan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

"Kisaran harga setelah diskon, paling murah Rp399 ribu dan paling mahal kami ada Rp1,9 juta," katanya.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, pengunjung yang ingin masuk ke area bazaar harus mendapatkan stempel terlebih dahulu. Setelah masuk, pengunjung diberikan waktu selama kurang lebih setengah jam untuk memilih produk dan membayar. Bagi pengunjung yang sudah keluar dari area bazaar tidak diperkenankan masuk lagi.

Penyelenggara juga memberlakukan sistem buka tutup dalam memasukkan pengunjung ke area bazaar. Hal ini dilakukan agar kondisi tidak terlalu padat di dalam area bazaar.

Daya Beli Unjuk Gigi di Perhelatan Nike BazaarAntrean pengunjung mengular hingga penyelenggara terpaksa memberlakukan sistem buka tutup dan hanya diberikan waktu setengah jam. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

Yoyok Bagoes (28), salah satu pengunjung bazaar mengaku, tergiur dengan diskon yang ditawarkan. Informasi tersebut diperolehnya dari pesan viral melalui aplikasi Whatsapp. Karenanya, pria yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi IT ini rela mengantre dari pukul 10 pagi, ketika mal dibuka, hingga pukul 15 WIB.

"Sebenarnya, saya ingin cari sepatu bola, tetapi tidak ada. Akhirnya, saya beli kaus, celana, dan kaus kaki. Memang murah sih," terang dia.

Menurut Yoyok, acara diskon barang bermerek perlu lebih sering dilakukan untuk menarik minat belanja masyarakat. Selain itu, penyelenggaraan acara juga perlu disebar di berbagai tempat.

"Kalau bisa disebar acaranya,tidak hanya di satu tempat. Kalau seperti ini, kasihan yang bawa anak-anak," imbuhnya.

Cerita berbeda datang dari Mei (23). Ia lebih memilih untuk menitipkan uang kepada teman dibandingkan harus mengantre. Ia mengaku, tertarik dengan Nike Bazaar. Sebagai anak kuliah, ia merasa harus lebih pintar dalam mengatur keuangan. Salah satu cara, menyiasati uang jajan yang terbatas dengan mengejar diskon.

"Harga asli Nike Air kan lumayan mahal. Di acara ini, harganya lumayan turun," ucapnya.

Sebelumnya, Survei Nielsen melansir, Indonesia menjadi negara paling optimis ketiga di dunia, setelah Filipina dan India. Hal ini tercermin dari meningkatnya Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) di Indonesia, yakni dari 120 poin persentase pada akhir tahun lalu menjadi 121 pada kuartal kedua tahun ini. Sayangnya, persepsi konsumen akan keinginan berbelanja melorot dari 59 ke 57 poin.

Menurut Nielsen, Tingkat Keyakinan Konsumen (TKK) global menunjukkan tren peningkatan, seiring dengan terus tumbuhnya optimisme di banyak negara. TKK ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni persepsi konsumen akan prospek lapangan kerja, kondisi keuangan pribadi, termasuk keinginan berbelanja. Semuanya dinilai dalam 12 bulan ke depan.