Daya Beli Diklaim Tak Susut Cuma Karena e-Commerce

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Senin, 07/08/2017 19:24 WIB
Pandangan ini muncul lantaran sampai saat ini BPS belum mampu menjangkau data penjualan dan transaksi yang dilakukan masyarakat di e-commerce. Pandangan ini muncul lantaran sampai saat ini BPS belum mampu menjangkau data penjualan dan transaksi yang dilakukan masyarakat di e-commerce. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim daya beli masyarakat tak susut karena perubahan pola belanja masyarakat ke perdagangan elektronik (e-commerce) dari sebelumnya toko berbentuk fisik (offline store).

Namun, Kepala BPS Suhariyanto atau yang akrab disapa Ketjuk mengatakan, pandangan ini muncul lantaran sampai saat ini BPS belum mampu menjangkau data penjualan dan transaksi yang dilakukan masyarakat di e-commerce.

Hal ini pula yang membuat survei statistik pengeluaran masyarakat yang selama ini dilakukan BPS hanya pada pos-pos pengeluaran yang telah umum.


"Terus terang, angkanya kami belum ada. Tapi kalau diperkirakan pun, angkanya masih kecil. Jadi, saya kira saat ini, belum memungkinkan untuk (bergeser ke) e-commerce," ujarnya di kantornya, Senin (7/8).

Selain itu, bila harus menganalisis secara praktis, BPS melihat bahwa pertumbuhan e-commerce tak terbilang besar. Apalagi, sumbangannya pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Sebab, sektor e-commerce masih dalam proses pertumbuhan.

"Mungkin, secara nominal besar, tapi presentasenya kecil. Pertumbuhan tidak setinggi yang kami bayangkan. Mungkin transaksinya tumbuh tapi tidak melonjak," imbuh dia.

Kendati demikian, Ketjuk mengungkapkan bahwa BPS akan berusaha menggandeng para pelaku e-commerce agar mampu mendapatkan rekam jejak penjualan dan transaksi e-commerce hingga sumbangannya pada pertumbuhan.

Di sisi lain, sekalipun ada pergeseran pola konsumsi dari offline ke online, seharusnya tak jadi soal pada geliat daya beli masyarakat. Sebab, produk yang dibeli tetap sama dengan yang biasa dibeli masyarakat pada toko offline.

"Kalau ada perubahan transaksi itu, tapi kan barang yang dijual sama saja. Bedanya hanya dulu mereka datang ke mall untuk belanja, sekarang mereka melakukannya secara online. Tapi, itu kan hanya masyarakat kalangan atas, tak semuanya," jelas Ketjuk.

Adapun, ia melanjutkan, apabila terjadi pelemahan daya beli masyarakat, hal ini lebih cenderung pada sikap menahan belanja dari masyarakat. Menurutnya indikasi ini lebih tepat karena berdasarkan pantauan BPS, jumlah penghasilan kalangan menengah atas memang lebih tinggi, namun konsumsinya tak banyak.

Artinya, sambung dia, kalangan tersebut menahan belanja. "Mereka tahan belanja karena memperhatikan ekonomi global, mereka lihat ini akan berpengaruh ke ekonomi nasional," pungkas Ketjuk.

Seperti diketahui, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2017 hanya tumbuh tipis sebesar 4,95 persen dari sebelumnya 4,94 persen di kuartal I 2017. Hal ini membuat kontribusi konsumsi rumah tangga pada pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 2,65 persen. Padahal, di kuartal sebelumnya mencapai 2,72 persen.
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK