Namun, Kepala BPS Suhariyanto atau yang akrab disapa Ketjuk mengatakan, pandangan ini muncul lantaran sampai saat ini BPS belum mampu menjangkau data penjualan dan transaksi yang dilakukan masyarakat di e-commerce.
Hal ini pula yang membuat survei statistik pengeluaran masyarakat yang selama ini dilakukan BPS hanya pada pos-pos pengeluaran yang telah umum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, bila harus menganalisis secara praktis, BPS melihat bahwa pertumbuhan e-commerce tak terbilang besar. Apalagi, sumbangannya pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Sebab, sektor e-commerce masih dalam proses pertumbuhan.
Kendati demikian, Ketjuk mengungkapkan bahwa BPS akan berusaha menggandeng para pelaku e-commerce agar mampu mendapatkan rekam jejak penjualan dan transaksi e-commerce hingga sumbangannya pada pertumbuhan.
Di sisi lain, sekalipun ada pergeseran pola konsumsi dari offline ke online, seharusnya tak jadi soal pada geliat daya beli masyarakat. Sebab, produk yang dibeli tetap sama dengan yang biasa dibeli masyarakat pada toko offline.
"Kalau ada perubahan transaksi itu, tapi kan barang yang dijual sama saja. Bedanya hanya dulu mereka datang ke mall untuk belanja, sekarang mereka melakukannya secara online. Tapi, itu kan hanya masyarakat kalangan atas, tak semuanya," jelas Ketjuk.
Artinya, sambung dia, kalangan tersebut menahan belanja. "Mereka tahan belanja karena memperhatikan ekonomi global, mereka lihat ini akan berpengaruh ke ekonomi nasional," pungkas Ketjuk.
Seperti diketahui, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2017 hanya tumbuh tipis sebesar 4,95 persen dari sebelumnya 4,94 persen di kuartal I 2017. Hal ini membuat kontribusi konsumsi rumah tangga pada pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 2,65 persen. Padahal, di kuartal sebelumnya mencapai 2,72 persen.