Toh, Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta menilai, lemahnya daya beli masyarakat bukan berarti kekeringan likuiditas untuk berbelanja. Melainkan, karena masyarakat kini lebih selektif dalam membelanjakan uang mereka.
"Jadi, kalau barang diskon kan di luar harga normal. Nah, di sini orang yang tadinya tidak mau belanja, jadi mau. Mumpung murah nih," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diskon seperti itu ampuh sekali mendorong daya beli. Diskonnya tinggi sekali. Ada yang 80 persen - 90 persen, ya pasti ampuh," katanya.
Faktor lainnya, yakni perusahaan ingin kembali memasarkan brand-nya secara masif. Sehingga, diskon menjadi upaya pemasaran perusahaan.
PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) tidak menampik jika diskon menjadi salah satu cara perusahaan untuk menghabiskan stok yang belum terjual sejak lama.
Namun, lanjut dia, perusahaan biasanya memiliki dua pertimbangan untuk menggelar diskon. Selain untuk menghabiskan stok lama, perusahaan juga melakukan diskon untuk mengenalkan produk.
Menurut Wiradi, Electronic City pun kerap menggelar diskon, baik untuk promosi dan menghabiskan barang. Khusus untuk penghabisan stok lama, saat ini, perusahaan tengah menggelar diskon di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
"Itu strategi marketing, sah-sah saja," tutur dia.
Untuk penjualan barang-barang pokok sendiri, Solihin menilai, tidak bisa konsentrasi pada satu jenis barang saja. Pasalnya, ada berbagai macam barang pokok dari berbagai merk yang dijual.
"Jadi, kalau bicara menonjolkan harga, kan orang ke mini market atau super market itu bukan hanya beli yang murah saja, kan ada ribuan barang," pungkasnya.