Pupuk Indonesia Desak Penurunan Harga Gas

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 17/10/2017 08:15 WIB
Pupuk Indonesia Desak Penurunan Harga Gas PT Pupuk Indonesia (Persero) meminta pemerintah kembali menurunkan harga gas industri karena selama ini menyebabkan harga pupuk tidak kompetitif. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pupuk Indonesia (Persero) meminta pemerintah kembali menurunkan harga gas untuk industri pupuk karena selama ini menyebabkan harga pupuk tidak kompetitif di pasar global.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat menyebutkan, rerata harga gas industri yang ditetapkan pemerintah mencapai US$6 per MMBTU atau jauh lebih mahal dibandingkan harga gas di negara lain yang berkisar US$1 hingga US$3 per MMBTU. Padahal, komponen gas menyumbangkan 70 persen dari total biaya produksi.

Selain itu, perseroan membeli gas menggunakan sistem take or pay. Jadi, perseroan tetap harus membayar meskipun tidak digunakan. Tak ayal, harga gas menjadi penentu besaran biaya produksi dan berujung pada tingginya harga jual.



Kondisi tersebut, lanjut Aas, tidak menguntungkan bagi perseroan di tengah pasar yang kelebihan pasokan. Saat ini, lanjut Aas, rendahnya harga gas berdampak pada turunnya harga pupuk dunia.

"Suplai dunia saat ini 240 juta ton, sedangkan pemakaian dunia hanya 180 juta ton. Jadi sudah over supply. Persaingannya, siapa yang bisa masuk ke pasar 180 juta adalah yang baik dan biayanya rendah," ujar Aas saat berbincang santai dengan awak media di kantor Kementerian BUMN, Senin (16/10).

Sebagai gambaran, harga pupuk urea beberapa tahun lalu bisa mencapai US$350 hingga US$400 per ton. Kini, harganya hanya berkisar US$210 hingga US$220 per ton. Sementara, biaya produksi pupuk urea perseroan berada di kisaran US$240 hingga US$260 per ton.

"Untuk perusahaan di luar negeri, turunnya harga jual urea) itu membuat mereka tidak merugi karena diikuti dengan penurunan harga gas. Kalau di Indonesia, harga internasional turun tapi harga kita tetap, berat buat kami bersaing," paparnya.


Kondisi itu diperparah oleh pemakaian gas yang cenderung boros mengingat pabrik pupuk di Indonesia banyak yang sudah berumur. Sebagai gambaran, pabrik baru biasanya konsumsinya sekitar 24 MMBTU per ton. Sementara, rata-rata konsumsi gas perseroan mencapai 29 hingga 30 MMBTU per ton.

"Harga gas mahal, konsumsi gasnya cukup tinggi. Ini yang jadi permasalahan kita. Sedangkan di luar, sudah harga gasnya murah pabriknya juga baru," ujarnya.

Ke depan, Aas berusaha meningkatkan efisiensi produksi. Salah satunya dengan cara revitalisasi sejumlah pabrik dan memastikan agar pabrik bisa berproduksi sesuai kapasitasnya.

"Kami pelihara pabrik sedemikian rupa, sehingga dia bisa produksi sesuai kapasitas terpasang," ujarnya.

Selain itu, perseroan juga mengalihkan sebagian penggunaan gas ke batubara yang biaya produksinya relatif lebih murah. Sayangnya, tidak semua pabrik memiliki peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk dengan batubara.

Sebagai informasi, tahun ini kapasitas produksi perseroan mencapai 13 juta ton per tahun. Sebanyak 9,5 juta ton diantaranya diperuntukkan untuk pupuk subsidi.