Badan Administrasi Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA) mencatat, persediaan minyak mentah AS turun 5,7 juta barel pada pekan lalu. Padahal, analis memperkirakan hanya turun 4,2 juta barel.
Sementara tingkat penyulingan minyak AS turun 4,7 persen menjadi 84,5 persen dari total kapasitas. Ini merupakan yang paling lambat secara musiman sejak 2011 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Harga Minyak Mentah Dunia Stagnan |
"Kemunduran dalam tingkat pemanfaatan kilang terjadi saat penyulingan menjalani perawatan musiman," kata Anthony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging LLC, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (19/10).
Alhasil, harga minyak mentah Brent naik US$0,27 atau 0,46 persen menjadi US$58,15 per barel. Sementara, harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,16 atau 0,3 persen menjadi US$52,04 per barel.
Ancaman lain dari Timur Tengah, yaitu perselisihan antara AS dan Iran lantaran Presiden AS Donald Trump menolak mengesahkan peraturan Iran atas kesepakatan nuklir. Hal ini membuat kongres AS memutus tindakan lebih lanjut terhadap Teheran.
Terakhir, ada sentimen dari sinyal perpanjangan pemangkasan produksi minyak dari Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan Rusia.
Saat ini pelaku pasar memperkirakan dua hal. Pertama, OPEC akan mempertahankan pemangkasan sampai akhir 2018, atau kedua, OPEC akan memperpanjang sampai enam atau sembilan bulan ke depan. (gir)