Tercatat, harga minyak mentah Brent kembali naik tipis 0,6 persen atau sekitar US$0,33 menjadi US$56,94 per barel, setelah kemarin menguat hingga dua persen. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 0,8 persen atau sekitar US$0,38 menjadi US$51,3 per barel.
OPEC memperkirakan, kebutuhan minyak dunia mencapai 33,06 juta barel per hari (bph) pada tahun depan. Angka ini meningkat sekitar 230 ribu bph dari proyeksi semula pada Juli lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BPH Migas Bakal Periksa SPBU 'Nakal' |
Sementara itu, produksi minyak mentah Arab Saudi hanya sekitar 9,97 bph pada September lalu, sedikit meningkat, namun masih di bawah target OPEC.
Kendati permintaan diproyeksi meningkat, negara-negara anggota OPEC dan non OPEC seperti Rusia telah menyetujui pembatasan produksi minyak sekitar 1,8 juta bph sampai Maret 2018. Pembatasan tersebut rencananya akan kembali diperpanjang guna menjaga harga pasar. Adapun negara non OPEC, diperkirakan hasil produksi minyak mentahnya akan turun dari 90 ribu bph menjadi 60 ribu bph.
Meski OPEC membatasi produksi tahun ini, Amerika Serikat (AS) rupanya tak sejalan dengan itu. Tercatat, produksi minyak mentah AS justru naik sekitar 10 persen menjadi lebih dari 9,5 juta bph. Bahkan, ketersediaan minyak mentah AS disebut juga meningkat, sekitar 3,1 juta barel pada awal Oktober lalu.
Di sisi lain, sentimen harga minyak mentah pada perdagangan kemarin, juga mendapat pengaruh dari ketegangan di Kurdistan, Irak bagian utara, yang ingin memisahkan diri. Dikabarkan, ketegangan berlanjut hingga pasukan pemerintah dan para militer Irak tengah mempersiapkan serangan besar ke kawasan Kurdi. (agi)