MRT Jakarta Siap Kembangkan Area di Kawasan Delapan Stasiun

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 20/10/2017 07:15 WIB
MRT Jakarta Siap Kembangkan Area di Kawasan Delapan Stasiun Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rahmad Ones).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta berniat melakukan pengembangan berorientasi transit (transit oriented development) di delapan titik stasiun MRT fase I rute Lebak Bulus - Bundaran Hotel Indonesia.

"Pemerintah memberikan hak di delapan stasiun tetapi kami harus mengupayakan agar area siap," ujar Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar di sela acara 'Deloitte Indonesia Infrastructure CEO Forum 2017' di Hotel Ritz-Carton Jakarta, Kamis (19/10).

Pemerintah provinsi DKI Jakarta memang telah menugaskan perseroan sebagai operator utama pengelola area TOD stasiun MRT fase I. Hal itu tercantum dalam Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 140 Tahun 2017 yang diundangkan pada 11 Oktober 2017 lalu.



Dalam beleid tersebut perseroan mempunyai empat tugas utama yaitu, mengkoordinasikan pemilik lahan dan/atau bangunan dalam perencanaan dan pengembangan kawasan, dan mendorong upaya percepatan pembangunan sarana dan prasana kawasan TOD sesuai Panduan Rancang Kota.

Selain itu, mengkoordinasikan pemilik lahan dan/atau bangunan, penyewa serta pemangku kepentingan lainnya dalam pengelolaan, pemeliharaan, dan pengawasan di Kawasan TOD, serta memonitor pelaksanaan pengembangan kawasan TOD.

William merinci, delapan kawasan TOD yang mendapatkan izin untuk dikembangkan antara lain di Stasiun Bundaran HI, Stasiun Dukuh Atas, Stasiun Setiabudi, Stasiun Bendungan Hilir, Stasiun Istora Senayan, Stasiun Senayan, Stasiun Blok M, dan Stasiun Lebak Bulus.

Perseroan telah menangkap minat sejumlah calon mitra bisnis untuk mengembangkan area TOD. Hal itu dibuktikan dengan penandatangan nota kesepahaman yang dilakukan oleh perseroan dan 40 pengembang yang telah menyatakan minatnya beberapa waktu lalu.


Konsep pengembangan pun beragam mulai dari area komersial hingga hunian yang disesuaikan dengan ketersediaan lahan. Kendati demikian, hingga kini, perseroan belum menguasai seluruh lahan yang diperlukan untuk pengembangan.

"Tanah itu kan miliknya macam-macam, milik pengembang di situ. Bundaran HI sudah tidak ada lagi tanah yang dimiliki pemerintah. Di sana sudah ada Plaza Indonesia, Grand Indonesia. Jadi kami betul-betul harus bekerja sama dengan mereka. Kami bisa buat jalan bawah tanah," ujarnya.

William berharap peletakan batu pertama proyek TOD MRT bisa dilakukan tahun depan. Namun, William belum membocorkan stasiun mana yang pertama kali dipilih untuk bisa dikembangkan. Besaran kebutuhan investasi masih dihitung oleh perseroan.