Semester I, Indonesia Raup Investasi Infrastruktur Terbesar

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Senin, 23/10/2017 17:42 WIB
Semester I, Indonesia Raup Investasi Infrastruktur Terbesar Kelompok Bank Dunia mencatat, hingga semester I 2017, Indonesia merupakan tujuan investasi dengan nilai tertinggi, mencapai US$7,8 miliar. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok Bank Dunia mencatat, proyek bernilai miliaran dolar AS mendorong investasi sektor swasta yang lebih kuat dalam pembangunan infrastruktur di negara-negara berkembang.

Dalam laporan Private Participation in Infrastructure (PPI), tercatat investasi hingga semester I 2017 meningkat sebesar 24 persen dari periode yang sama pada tahun lalu. Sepanjang semester I tahun ini, tercatat investasi US$36,7 miliar untuk 132 proyek.

"Indonesia merupakan tujuan investasi dengan nilai tertinggi (US$7,8 miliar), sementara Pakistan dan Yordania merupakan pendatang baru dalam posisi lima besar. Sepertiga dari investasi global semester I 2017 berasal dari lima proyek di ketiga negara ini," tulis laporan Bank Dunia, dikutip Senin (23/10).



Namun, meskipun pertumbuhan proyek berukuran lebih besar berkontribusi pada angka paruh pertama tahun 2017, tingkat investasi tetap saja 15 persen lebih rendah dari rata-rata satu semester dalam lima tahun terakhir.

Jika tidak termasuk mega proyek, maka ukuran proyek rata-rata meningkat dari US$156 juta di tahun 2016 menjadi US$ 171 juta pada tahun 2017.
 
Head of the Infrastructure, PPPs, and Guarantees Group Bank Dunia Cledan Mandri-Perrott mengatakan, investor sektor swasta melakukan peningkatan investasi di proyek infrastruktur.

Ia menyatakan, kelompok Bank Dunia terus mendorong investasi swasta yang lebih banyak di bidang infrastruktur, yang tetap merupakan bagian kecil dari total belanja infrastruktur.


"Sejak tahun 1990, sektor swasta hanya menginvestasikan US$ 1,6 triliun secara keseluruhan dalam proyek infrastruktur di negara-negara berkembang," katanya.
 
Laporan Bank Dunia mencatat, kawasan Asia Timur dan Pasifik menerima lebih dari sepertiga dari total investasi global, menyalip untuk pertama kalinya wilayah Amerika Latin dan Karibia, yang komitmen investasinya sedikit menurun.

Sektor energi juga menarik minat kebanyakan, terhitung hampir tiga perempat dari total komitmen investasi 2017. Indonesia, Yordania, dan Pakistan menandatangani proyek pembangkit listrik masing-masing bernilai lebih dari US$1 miliar.
 
Sementara, 17 dari 33 negara tujuan untuk komitmen investasi infrastruktur sektor swasta hanya membiayai satu proyek. Sementara beberapa negara menandatangani banyak kesepakatan, dengan China dan India berada di puncak daftar. China menyetujui 36 proyek, dan India 22 usaha.
 

Lebih lanjut, investasi di sektor energi terbarukan juga terus menguat, dengan 68 dari 82 proyek pembangkit listrik difokuskan pada tenaga surya dan angin.

Dari 29 proyek surya yang ditandatangani pada 2017, 13 diantaranya berada di China dan tujuh berada di India, sementara Brasil menyumbang 7 dari 16 proyek pembangkit tenaga angin yang tercatat. Nilai rata-rata untuk proyek energi terbarukan adalah US$ 149 juta.
 
Investasi di negara-negara berpenghasilan rendah juga naik menjadi US$2,1 miliar untuk 15 proyek di 10 negara. Pada 2016, hanya enam negara berpenghasilan rendah yang menerima investasi sektor swasta di bidang infrastruktur.