REKOMENDASI SAHAM

Saham BBCA dan BJBR Diproyeksi Menanjak

Dinda Audriene Muthmainah    , CNN Indonesia | Senin, 30/10/2017 08:47 WIB
Saham BBCA dan BJBR Diproyeksi Menanjak Saham BBCA, BJBR, dan SRIL diperkirakan akan kembali menanjak pada pekan ini, setelah sempat merosot pada pekan lalu. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga saham emiten perbankan diproyeksi bangkit (rebound) secara teknikal pada pekan ini, setelah terpantau merosot pada pekan lalu. 

Pelemahan harga saham emiten perbankan pekan lalu diakibatkan aksi ambil untung (profit taking) pelaku pasar setelah emiten perbankan mengeluarkan laporan keuangan kuartal III 2017, di mana mayoritas perusahaan mencatatkan kinerja positif hingga akhir September 2017.

Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA meraih laba bersih sebesar Rp16,8 triliun, atau meningkat 11,3 persen dari periode yang sama tahun 2016 Rp13,4 triliun.


Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengklaim, kenaikan laba bersih berasal dari penyaluran kredit yang tumbuh 13,9 persen menjadi Rp440 triliun. Kemudian, pendapatan operasional BCA juga menanjak 5,2 persen menjadi Rp41,7 triliun.

"Manajemen risiko yang prudent (hati-hati) juga merupakan bagian penting dalam upaya mempertahankan pertumbuhan laba yang positif," ucap Jahja, belum lama ini.

Setelah laporan keuangan rilis pada Kamis (26/10), harga saham BCA pada keesokan harinya langsung anjlok 2,28 persen ke level Rp20.300 per saham dari perdagangan sebelumnya yang masih di level Rp20.775 per saham.

Namun, bila dicermati kembali harga saham BCA memang terpantau berfluktuasi pada pekan lalu. Pada awal pekan, harga saham berada di level Rp21.000 per saham.

Kemudian sempat turun dan melesat kembali hingga ke level Rp21.050 per saham sebelum laporan keuangan BCA rilis. Dengan demikian, harga saham BCA tercatat melemah 3,33 persen sepanjang pekan lalu.

"Harga saham akhir pekan sudah tertekan, BCA sudah di level support-nya (level terbawah). Secara umum akan kembali trading buy," ujar analis Kresna Sekuritas, William Mamudi kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (30/10).

Ia merekomendasikan beli (buy) untuk saham BCA sepanjang pekan ini dengan target harga di level Rp21.000 per saham hingga Rp21.300 per saham. Menurutnya, pelaku pasar dapat langsung melakukan akumulasi beli pada Senin (30/10).

Tak hanya BCA, sinyal positif juga tampak pada pergerakan saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR). Sedikit berbeda, harga saham BJBR terlihat sudah mulai mendaki sejak akhir pekan lalu, Jumat (27/10), atau saat laporan keuangan kuartal III 2017 diumumkan.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (25/10) harga sahamnya terjun bebas ke level Rp2.520 per saham atau ambruk 7,69 persen dari sebelumnya di level Rp2.730 per saham.

Namun, laba bersih BJBR justru turun delapan persen menjadi Rp1,07 triliun akibat adanya alokasi pencadangan pada anak usahanya, PT BJB Syariah.

Hanya saja, peluang kenaikan harga saham BJBR tetap tampak untuk pekan ini dari segi teknikalnya. Bila dihitung dalam sepekan lalu, harga saham BJBR tercatat naik tipis 1,64 persen ke level Rp2.470 per saham.

"Untuk saham BJBR sepekan bisa di kisaran Rp2.700 per saham sampai Rp2.750 per saham," sambung William.

Secara keseluruhan, indeks sektor keuangan terkoreksi 0,63 persen pada pekan lalu menjadi 1.023,949, sedangkan pekan sebelumnya menguat 0,68 persen di level 1.030,441.

Adapun, analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menyarankan pelaku pasar juga melirik saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex. Harga saham perusahaan memiliki kecenderungan untuk tumbuh pekan ini dipompa oleh kinerja perusahaan pada kuartal III 2017.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, Sritex membukukan laba bersih sebesar US$47,23 juta atau naik 14,35 persen dari sebelumnya US$41,3 juta. Hal ini ditopang oleh peningkatan pendapatan 14,81 persen menjadi US$572,59 juta dari US$498,69 juta.

"Jadi ini momentum bagus untuk pelaku pasar masuk kembali, mencari posisi beli dan diprediksi bisa untung," terang Aditya.

Aditya menjelaskan, harga saham Sritex sepanjang pekan lalu terbilang bergerak stagnan. Pada perdagangan Jumat (27/10), harga saham berakhir di level RP372 per saham.

"Secara teknikal pelaku pasar bagus untuk beli di posisi Rp368 per saham hingga Rp370 per saham. Kemudian target profit taking di level Rp400 per saham," papar Aditya.

Hindari Saham MAPI
Di sisi lain, Aditya berpendapat agar pelaku pasar menghindari saham PT Mitra Adiperkasa terlebih dahulu untuk pekan ini karena masih adanya sentimen negatif dari pemberitaan penutupan gerai Lotus dan Debenhams.

"Jadi karena berdasarkan berita saja sebenarnya," kata Aditya.

Padahal, bisa jadi penutupan gerai Lotus dan Debenhams milik perusahaan bakal berpengaruh positif pada kinerja perusahaan nantinya. Dengan penutupan tersebut, maka biaya operasional yang perlu dikeluarkan perusahaan semakin kecil.

"Mereka kan efisiensi, tapi orang mungkin ada yang berpendapat wah bangkrut nih padahal tidak," jelas Aditya.

Aditya memprediksi, harga saham MAPI masih berada dalam tren penurunan untuk pekan ini. Namun, harga saham MAPI sepanjang pekan lalu tumbuh tipis 0,38 persen dari Rp6.450 per saham pada awal pekan dan berakhir di level Rp6.475 pada Jumat (27/10) kemarin.

"Berita negatif ini sebenarnya juga bisa mempengarugi saham lainnya yang berada di satu sektor bersama MAPI," tutur Aditya.

Aditya menambahkan, saham PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) juga sebaiknya dihindari karena diprediksi menurun bila dilihat secara teknikal. Pergerakan saham Ramayana Lestari memang terlihat tidak cukup baik pada pekan lalu.

Pada perdagangan terakhir, harga sahamnya jatuh ke level Rp880 per saham atau melemah 1,68 persen. Sementara, sepanjang pekan harga saham Ramayana Lestari turun 0,56 persen.


BACA JUGA