Kans MAP Catat Kinerja Kinclong Terbuka Usai Tutup Lotus

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Selasa, 24/10/2017 13:59 WIB
Kans MAP Catat Kinerja Kinclong Terbuka Usai Tutup Lotus Kinerja pengelola Lotus Department Store dan Debenhams tercatat cemerlang dalam 3 tahun terakhir. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Berita muram lagi-lagi menimpa industri ritel di Indonesia dengan rencana penutupan tiga gerai Lotus Department Store pada akhir bulan ini. Pihak pengelola, PT Mitra Adiperkasa (MAP) beralasan hal tersebut dilakukan karena gerai Lotus Department Store tak memberi pendapatan positif kepada perusahaan.

Sebelum Lotus, perusahaan juga telah menutup dua gerai Debenhams yang berada di Lippo Mall Kemang dan Supermal Karawaci. Saat ini, MAP hanya menyiasakan gerai Debenhams di Senayan City. Alasannya pun serupa, karena gerai tak lagi memberikan keuntungan yang diharapkan oleh manajemen.

Menurut Director Corporate Communication MAP Fetty Kwartati, jumlah gerai Lotus sebenarnya tidak banyak. Mulanya, MAPI memiliki lima gerai Lotus, sebanyak dua gerai sudah ditutup lebih dulu, kemudian menyusul penutupan tiga gerainya lagi pada bulan ini.


"Betul ada penutupan, perusahaan sedang melakukan restrukturisasi divisi department store," kata Fetty, beberapa waktu lalu.


Rencana penutupan gerai Lotus dan Debenhams sebenarnya bukanlah cerita baru. Jika ditelisik, rencana ini pernah ia ungkapkan pada bulan Mei lalu. Kinerja buruk Lotus dan Debenhams sebenarnya sudah tercium sejak lama oleh perusahaan.

Namun secara keseluruhan, kinerja keuangan perusahaan tak menunjukkan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Terbukti, pendapatan perseroan tercatat meningkat dalam kurun tiga tahun terakhir.

Mengulik laporan keuangan emiten berkode saham MAPI itu, Perusahaan mengalami pertumbuhan pendapatan mencapai 16,4 persen dalam akumulasi selama tiga tahun.

Secara rinci, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp11,82 triliun pada tahun 2014, kemudian meningkat 7,8 persen pada 2015 dengan raihan omzet Rp12,83 triliun.

Pertumbuhan pendapatan pun terus terjaga pada akhir tahun 2016 dengan persentase pertumbuhan 10,21 persen menjadi Rp14,14 triliun.

Kendati demikian, perusahaan menopang beban operasional ekstra jumbo hingga menggerus cuan. Dari sisi keuntungan, laba bersih perusahaan memang sempat merosot hingga 61,53 persen menjadi Rp30 miliar pada 2015 dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar sebesar Rp78 miliar.

Namun kinerja laba kembali pulih pada 2016 dengan lonjakan tajam hingga 592,72 persen dan tembus di angka Rp208,47 miliar.


Kejayaan perusahaan pun seakan tak runtuh hingga semester I 2017 ini. Perusahaan kembali mencatatkan kenaikan pendapatan 15,81 persen menjadi Rp7,71 miliar dan laba bersih sebesar Rp175,02 miliar atau lompat 278 persen.

Bila dicermati lebih rinci, pendapatan perusahaan semester pertama tahun ini berasal dari tiga bisnis, yaitu penjualan eceran dan grosir sebesar Rp7,09 triliun, komisi penjualan konsinyasi bersih Rp567 miliar, pendapatan sewa dan jasa pemeliharaan Rp48,44 miliar, dan lain-lain Rp2,31 miliar.

Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menyebut, tidak ada masalah dari laporan keuangan perusahaan. Namun begitu, keputusan penutupan beberapa gerainya juga tak bisa dianggap keliru.

Dia menilai, perusahaan akan mendapatkan berkah dari penutupan gerainya yang dinilai tidak memberikan keuntungan positif. Beban yang selama ini harus ditanggung MAPI otomatis berkurang dan bisa disimpan untuk operasional atau ekspansi lain yang lebih menguntungkan.

"Kalau penjualan tidak laku, tapi beban besar kan jadinya merugikan perusahaan dan jadi sentimen negatif bagi kinerja," papar Kevin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/10).

Sementara itu, Kepala Riset PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan berpendapat, penutupan gerai ini akan membuat pelaku pasar menganggap perusahaan telah melakukan upaya efisiensi yang tepat guna menjaga kinerja keuangannya tetap positif.

"Jadi untuk ke depan kinerja MAPI masih tumbuh. Ini tidak begitu masalah karena MAPI juga masih banyak bisnis lainnya," jelas Alfred.

Bila Lotus akan ditutup keseluruhan tahun ini, jelas Alfred, maka bukan tidak mungkin perusahaan akan kembali membuka gerai dengan brand lain yang dapat memberikan keuntungan lebih kepada perusahaan pada tahun-tahun berikutnya.


"Karena kan perusahaan juga harus cerdik ditengah perubahan pola belanja masyarakat melalui daring (online)," sambung Alfred.

Tahun ini, isu mengenai penurunan industri ritel memang santer diberitakan. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebutkan, adanya penurunan dari pertumbuhan industri ritel sepanang semester hanya 3,7 persen, sedangkan semester I tahun lalu mencapai 11,2 persen.

"Semester I tahun ini menurut analisa kami hanya tumbuh 3,7 persen, di mana kuartal I tumbuh 3,9 persen dan kuartal II 3,5 persen. Sedangkan semester I tahun lalu 11,2 persen," ucap Ketua Umum Aprindo, Roy Nicholas Mandey.

Menurutnya, kondisi ini mengindikasikan adanya penurunan daya beli masyarakat. Pasalnya, semangat belanja masyarakat tidak bertahan di level yang sama seperti tahun lalu atau pertumbuhannya menurun.


Tutup Gerai Lotus jadi Cara MAP Strategi Kinerja CemerlanFoto: CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi

Harga Saham MAPI Rebound

Adapun, harga saham MAPI terlihat tetap menguat pada Senin (23/10) lalu ditengah maraknya pemberitaan negatif dari rencana penutupan tiga gerai Lotus.

Terpantau, harga saham MAPI ditutup di level Rp6.450 per saham atau menguat 3,2 persen dari penutupan akhir pekan lalu sebesar Rp6.250 per saham. Namun, pada penutupan sesi I ini, harga saham MAPI terkoreksi 1,16 persen menjadi di level Rp6.375 per saham.

Namun, pada perdagangan Kamis (19/10) lalu, harga saham sempat jatuh hingga Rp6.225 per saham. Hanya saja, Alfred berpendapat, anjloknya harga saham pada hari itu tidak berhubungan dengan penutupan gerai Lotus.

"Lalu kemudian MAPI naik lagi kan, itu ada teknikal rebound," katanya.

Sementara itu, Kevin yakin, berita penutupan gerai tak akan memukul telak harga saham MAPI untuk ke depannya. Masalahnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari penutupan gerai Lotus terhadap kinerja perusahaan.

Justru, karena beban perusahaan akan tergerus oleh penutupan tersebut maka ada potensi pertumbuhan kinerja perusahaan pada akhir tahun ini. Terlebih lagi, kinerja positif perusahaan selama ini juga menjadi daya tarik bagi pelaku pasar untuk melakukan aksi beli.

"Selama ini juga saham MAPI tidak terlalu fluktuatif, kalau turun tidak turu sekali kalau naik tidak naik sekali. Untuk harga masih oke," jelas Kevin.

Namun, jika memang penurunan harga saham pada sesi pertama ini berlanjut hingga penutupan sore, maka bisa menjadi momentum pelaku pasar untuk melakukan akumulasi beli di harga murah.