BWI Sebut Baru 62 Persen Tanah Wakaf Tersertifikasi

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 09/11/2017 07:16 WIB
BWI Sebut Baru 62 Persen Tanah Wakaf Tersertifikasi Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencatat baru 62 persen tanah wakaf di Indonesia yang memiliki sertifikat wakaf atau hanya 350 ribu sertifikat. (CNN Indonesia/M. Andika Putra).
Surabaya, CNN Indonesia -- Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencatat baru 62 persen tanah wakaf di Indonesia yang memiliki sertifikat wakaf atau hanya 350 ribu sertifikat. Padahal, luas tanah wakaf di Indonesia mencapai 420 ribu hektare (ha).

Pengurus BWI Iwan Agustiawan Fuad mengungkapkan, sertifikasi tanah wakaf di Indonesia berlangsung lambat salah satunya disebabkan keterbatasan kompetensi pengelola wakaf (nadzir).

"Pada masa-masa awal, memang banyak yang berwakaf itu kepada ustadz atau orang-orang yang dipercaya. Sementara itu, mereka memiliki keahlian pengembangan wakaf masih lemah," ujar Iwan dalam konferensi pers di Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017 di Surabaya, Rabu (8/11).



Iwan mencontohkan, seseorang mewakafkan tanah seluas 200 ha di Kalimantan kepada seorang ustadz. Sayangnya, kemampuan ustadz tersebut dalam mengelola aset wakaf lemah. Terlebih, kemampuan finansial ustadz tersebut juga terbatas. Akhirnya, wakaf tanah tersebut terbengkalai.

"Apalagi harus membayar untuk pembuatan sertifikatnya, Pajak Bumi Bangunan yang harus dibayar mencapai Rp75 juta yang dia kesulitan," ujarnya.

Namun demikian, BWI terus mendorong agar setiap tanah wakaf memiliki sertifikat demi kepentingan pengembangan ke depan. Setiap tahun, BWI mengalokasikan sejumlah anggaran untuk membantu pengurusan setifikat wakaf.


Pemerintah juga telah meluncurkan program Prona untuk mempermudah pengurusan sertifikat Tanah.

"Dengan adanya program Prona, kami terus-menerus mendorong agar wakaf bisa terus disertifikatkan semuanya," ujarnya.

(lav/bir)